PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) akan mengembangkan lahan 1 juta hektare (ha) di Kalimantan dan Sumatera untuk produksi bioetanol. Langkah ini dilakukan terkait penerapan kebijakan pencampuran bioetanol sebesar 20% ke BBM bensin atau E20.
Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pihaknya saat ini mendapat mandat mengelola lebih dari 4 juta ha lahan hasil penertiban Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
"Kebetulan saat ini kami diamanahkan untuk mengelola lahan sitaan satgas PKH, itu jumlahnya 4 juta lebih. Kami sudah petakan sebenarnya yang 1 juta hektare khusus dedicated untuk bioetanol," kata Ghani di Menara Agrinas Palma, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya mempertimbangkan tiga komoditas untuk dijadikan bahan baku utama produksi bioetanol, yakni jagung, sorgum, dan singkong. Berdasarkan kajian awal perusahaan, ketiga komoditas tersebut dinilai memiliki prospek investasi yang menjanjikan.
"Kami sudah melakukan studi awal, prastudi. Kami mungkin bioetanol yang akan kami bangun itu berbahan baku atau feedstocknya itu ada tiga, yaitu dari jagung, dari sorghum, dan dari ubi kayu. Dari analisis kami secara bisnis, analisa investasi, tiga commodity itu sangat layak dengan IRR di atas 15," tuturnya.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Agrinas telah menjalin kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama itu mencakup pengembangan industri bioetanol secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Selain Pertamina, sejumlah perusahaan swasta dalam dan luar negeri juga disebut telah menyatakan ketertarikan untuk terlibat dalam proyek tersebut. Meski demikian, pengembangan perkebunan bioetanol masih menghadapi tantangan perizinan.
"Persoalannya adalah bahwa lahan kami ini kan saat ini masih lahan kehutanan dan kami sudah mengajukan sebenarnya untuk agar lahan-lahan yang kami kuasa itu bisa diberikan izin KHKP, Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan," katanya.
Agrinas juga berencana menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Mulawarman untuk melakukan uji coba penanaman di Kalimantan Timur. Ghani memperkirakan pengembangan lahan seluas 1 juta hektare berpotensi menghasilkan sekitar 5 juta kiloliter bioetanol.
Baca artikel selengkapnya di sini.
