Kabut asap karhutla di Kota Palangka Raya tidak hanya mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Dampaknya mulai dirasakan petani sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi hingga gagal panen.
Minimnya paparan sinar matahari selama kabut asap menyelimuti wilayah Palangka Raya disebut membuat pertumbuhan tanaman sayuran tidak optimal. Kondisi tersebut membuat petani hortikultura harus menghadapi kerugian akibat tanaman yang tidak dapat dipanen secara maksimal.
Anggota Komisi I DPRD Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan, mengatakan dampak tersebut mulai dirasakan petani di sekitar Kota Palangka Raya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Petani sekarang di sekitar Kota Palangka Raya gagal semua yang nanam sayur. Karena tidak ada penyinaran matahari," kata Hatir, Senin (5/10/2026).
Menurut Hatir, persoalan yang dihadapi petani tidak berhenti pada kerugian akibat gagal panen. Berkurangnya produksi sayuran juga berpotensi memengaruhi ketersediaan komoditas di pasar.
"Ketika hasil panen menurun, pasokan sayuran dan komoditas pertanian lainnya ikut berkurang. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong kenaikan harga bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari," ujarnya.
Hatir menyebut kenaikan harga sudah mulai dirasakan, terutama pada komoditas cabai dan berbagai jenis sayuran.
"Sekarang pun kita sudah merasakan bagaimana kenaikan harga cabai di pasar, sayur-sayuran naik semua sekarang ini," ujarnya.
Ia menilai dampak terhadap sektor pertanian merupakan persoalan lanjutan dari kabut asap yang tidak boleh diabaikan. Sebab, kondisi yang bermula dari gangguan lingkungan dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi bagi petani maupun masyarakat sebagai konsumen.
"Ini adalah salah satu dampak itu. Artinya kalau pun nanti datang bantuan pemerintah, ini masih berguna," katanya.
Hatir berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan kabut asap melalui pemadaman karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat. Petani yang mengalami kerugian akibat gagal panen juga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan.
Menurutnya, bantuan tersebut penting untuk membantu petani bertahan sekaligus menjaga keberlangsungan produksi pangan. Dengan produksi yang tetap terjaga, tekanan terhadap pasokan dan harga kebutuhan pokok di pasar diharapkan tidak semakin besar.
"Penanganan dampak kabut asap pun dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga terhadap sektor pertanian serta penghidupan masyarakat yang terdampak," pungkasnya.
Untuk diketahui, harga sejumlah komoditas sayuran dan cabai di pasar Kota Palangka Raya mulai mengalami kenaikan di tengah kondisi kemarau panjang dan karhutla yang melanda Kalimantan Tengah.
Kenaikan harga terlihat pada sejumlah komoditas yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kondisi tersebut terjadi ketika pasokan dari sejumlah daerah penghasil mengalami keterbatasan.
Berdasarkan pemantauan harga di Pasar Besar Palangka Raya pada akhir September 2026 hingga awal Oktober, harga cabai rawit merah sempat mencapai Rp 150 ribu per kilogram, naik sekitar Rp 10 ribu dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 140 ribu per kilogram.
"Kenaikan juga terjadi pada sejumlah jenis sayuran. Mentimun yang sebelumnya sekitar Rp 10 ribu per kilogram naik menjadi Rp 15 ribu. Kangkung dari sekitar Rp 7 ribu menjadi Rp 10 ribu per kilogram," ungkap pedagang sayur di Pasar Besar Palangka Raya, Ina Rosalin.
Sementara itu, harga kacang panjang juga mengalami kenaikan. Komoditas tersebut tercatat berada di kisaran Rp 25 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya sekitar Rp 15 ribu per kilogram.
Harga sawi yang sebelumnya sekitar Rp 6 ribu per kilogram juga naik menjadi Rp 10 ribu. Sedangkan ketela pohon mengalami kenaikan dari sekitar Rp 10 ribu menjadi Rp 12 ribu per kilogram.
"Kenaikan harga juga telah dirasakan pedagang sejak pertengahan September. Harga cabai yang sebelumnya berada di kisaran Rp 100 ribu per kilogram dilaporkan naik menjadi sekitar Rp 120 ribu per kilogram," ungkapnya.
Kondisi pasokan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga. Terbatasnya pasokan dari sejumlah daerah seperti Jawa dan Kalimantan Selatan turut berdampak terhadap harga komoditas di pasar Palangka Raya.
Di sisi lain, kondisi karhutla dan keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) juga disebut diduga ikut memengaruhi kelancaran distribusi komoditas menuju Palangka Raya.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena pada saat yang sama kabut asap juga berdampak terhadap sektor pertanian lokal. Sejumlah petani sayuran di sekitar Palangka Raya bahkan dilaporkan mengalami gagal panen akibat minimnya paparan sinar matahari.
"Jika kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, pasokan sayuran lokal berpotensi semakin terbatas. Dampaknya, tekanan terhadap harga komoditas pangan di pasar dapat semakin terasa bagi masyarakat," ujarnya.
Karena itu, kelancaran distribusi dan keberlangsungan produksi pertanian menjadi penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan serta mencegah kenaikan harga semakin meluas di tengah kondisi karhutla dan kabut asap.
Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
