Karhutla Bikin Flight Sering Delay, Maskapai Keluhkan Biaya Operasional Naik

Nasional

Karhutla Bikin Flight Sering Delay, Maskapai Keluhkan Biaya Operasional Naik

Herdi Alif Al Hikam - detikKalimantan
Jumat, 28 Agu 2026 12:58 WIB
A staff member drives a vehicle carrying luggages at Supadio International Airport, as haze due to wildfires disrupted some flights, in Kubu Raya, West Kalimantan province, Indonesia, August 27, 2026. REUTERS/Willy Kurniawan
Kabut asap di Bandara Supadio, Kalimantan Barat. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
Samarinda -

Kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap menyebabkan penundaan penerbangan atau delay. Hal ini dikeluhkan pengusaha maskapai karena membuat biaya operasional naik.

Dilansir detikFinance, pengusaha maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menilai asap karhutla berisiko mengganggu konektivitas angkutan udara nasional apabila tidak segera diatasi. Mereka meminta pemerintah mempercepat penanganan agar penerbangan dapat kembali berjalan lancar.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah yang saat ini telah bergerak cepat menangani karhutla yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Penanganan ini perlu dipercepat dengan kerja sama semua pihak agar tidak berdampak pada konektivitas angkutan udara dan perekonomian nasional," ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiwaatmadja dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Denon, dari sisi operasional, asap karhutla dapat membuat jarak pandang atau visibility terbatas sehingga menyulitkan pilot dan petugas bandara. Pesawat lebih sering menunda lepas landas maupun pendaratan karena menunggu jarak pandang aman lebih dulu. Petugas ATC juga harus menambah jarak pemisahan atau separation distance antarpesawat, sehingga berimbas ke jadwal penerbangan.

Bahkan dalam beberapa kasus, maskapai harus mengalihkan hingga membatalkan penerbangan karena kabut asap tak kunjung hilang. Hal ini menimbulkan dampak serius bagi operasional maskapai maupun bagi penumpang sebagai konsumen.

Denon menambahkan, bandara yang tidak berada di daerah karhutla pun secara tidak langsung terdampak apabila bandara tujuan berada di wilayah karhutla. Seperti yang terjadi di Bandara Sepinggan Balikpapan yang tidak terdampak asap, tetapi beberapa penerbangan tujuan Pontianak dan Banjarmasin tertunda karena Bandara Supadio dan Bandara Syamsuddin Noor diselimuti kabut.

Partikular asap, jelutong, dan abu juga disebut berpotensi mengancam keselamatan penerbangan. Denon menjelaskan, partikel-partikel yang terbawa oleh asap itu dapat mengotori filter udara turbin mesin pesawat yang berujung pada penyumbatan tabung pitot static yang sensitif, serta mempercepat ausnya komponen internal mesin jika terhirup terus-menerus.

Biaya operasional maskapai penerbangan juga berisiko meningkat. Dibutuhkan biaya tambahan untuk bahan bakar untuk pesawat yang holding sebelum mendarat, gangguan perputaran rotasi pesawat dan kru penerbangan atau flight crew scheduling, hingga biaya kompensasi keterlambatan penumpang, pengembalian dana tiket pada penerbangan yang dibatalkan.

"Penumpang juga akan terganggu kepentingannya kalau terjadi keterlambatan penerbangan," ungkapnya.

Menurut catatan INACA, penerbangan di Bandara Supadio Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat, terganggu akibat jarak pandang di bawah 1.000 meter. Akibatnya lebih dari 21 penerbangan bermasalah, mulai dari mengalami keterlambatan penerbangan, pengalihan penerbangan, dan pembatalan penerbangan.

Kendala yang sama juga terjadi di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Bandara Syamsuddin Noor bahkan mengalami penurunan jarak pandang hingga hanya 200 meter.

Baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2
(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads