Lada dari Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, diakui memiliki kualitas unggul dan berdaya saing tinggi di pasaran. Namun, melimpahnya potensi perkebunan masih terganjal aksesibilitas. Warga hanya mengandalkan transportasi sungai sebagai jalur utama distribusi.
Kepala Desa Long Tebulo, Yusuf Apui, mengungkapkan pengiriman komoditas lada menuju Malinau Kota maupun Tanjung Selor sebenarnya dapat memanfaatkan moda transportasi udara. Kendati demikian, kendala operasional bandara membuat jadwal penerbangan tidak menentu.
"Ke Malinau ikut pesawat juga bisa, tapi kadang-kadang karena kondisi bandaranya bisa dibilang kurang bagus, jadi dari pesawat ini ditunda-tunda terus. Satu-satunya jalan yang pasti itu ikut transportasi sungai," ujar Yusuf saat ditemui di ladang lada, Kamis (6/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat jalur udara yang kerap tak pasti, para pengusaha atau pengepul memilih datang langsung ke Desa Long Tebulo untuk membeli hasil panen warga. Saat ini, lada kering hasil olahan petani dibeli dengan harga patokan sekitar Rp 65.000 per kilogram.
"Hasil dari penjualan kemarin itu mereka bilang cukup bagus biji lada dari Bahau. Dibandingkan lada Malinau, lada Bahau termasuk kualitas yang bagus. Saya juga sering menanyakan hal itu," terangnya.
Perkembangan perkebunan lada di Desa Long Tebulo tak lepas dari peran dan pembinaan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Yusuf menceritakan, dari yang awalnya hanya sekitar 10 KK yang berkebun, dorongan dan pembinaan TNKM membuat setiap Kepala Keluarga (KK) diarahkan mengelola setidaknya 50 tiang tanaman lada.
"Pada musim panen, satu KK mampu menghasilkan 40 hingga 60 kilogram lada kering per bulan. Dalam proses pengolahan lada dilakukan secara tradisional, mulai dari merendam buah lada selama dua minggu, memisahkannya secara manual menggunakan tangan, hingga mengeringkannya di bawah sinar matahari," jelasnya.
Dari 50 kilogram lada basah, petani biasanya memperoleh sekitar 5 hingga 6 kilogram lada kering. Meski memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, para petani masih dihadapkan pada ancaman hama walang sangit yang merusak buah lada serta tingginya harga pupuk organik yang mencapai Rp 200.000 per bungkus.
"Warga berharap adanya intervensi dan bantuan pengadaan pupuk organik, baik dari pihak TNKM maupun instansi pemerintah terkait," pungkasnya.
