Pernah Sebut 19.000 Sapi Dipotong Tiap Hari untuk MBG, Kepala BGN Klarifikasi

Nasional

Pernah Sebut 19.000 Sapi Dipotong Tiap Hari untuk MBG, Kepala BGN Klarifikasi

Nafilah Sri Sagita K - detikKalimantan
Kamis, 23 Apr 2026 11:30 WIB
Seorang pemilik menunggang indukan sapi Bali (Bos Javanicus domesticus) di sebuah kandang di Tanjung, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (20/4/2026). Pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi sapi dan kerbau lokal melalui penerapan teknologi inseminasi buatan untuk memperbaiki mutu genetik ternak, meningkatkan angka kelahiran dan mencegah penularan penyakit sebagai upaya memenuhi kebutuhan daging sapi dan kerbau Nasional pada 2026 sebesar 964 ribu ton dimana proyeksi produksi saat ini baru mencapai 479 ribu ton. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Ilustrasi sapi. Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Balikpapan -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan tentang pernyataannya yang menyebut ada 19.000 ekor sapi yang dipotong setiap harinya untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan itu sempat menjadi sorotan publik hingga pakar karena jarang ada menu daging dalam sajian MBG.

Dilansir derikHealth, salah satu komentar datang dari Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof Panjono. Ia menilai angka tersebut perlu dikaji ulang dan dibuka distribusinya secara transparan ke publik.

"Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya," ujar Prof Panjono beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dadan kemudian mengklarifikasi bahwa kebutuhan 19 ribu ekor yang dimaksud hanya simulasi atau pengandaian perhitungan dan tidak menggambarkan kondisi riil harian di lapangan. Kata Dadan, 19 ribu ekor sapi merujuk pada kondisi bila seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," jelasnya.

Dadan memaparkan, dalam satu kali proses memasak, satu SPPG membutuhkan daging sapi antara 350 hingga 382 kilogram, atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," ujarnya.

Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu MBG yang seragam secara nasional. BGN meminta penyusunan menu MBG disesuaikan dengan sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," ujar Dadan.

Variasi menu ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar. Kasus yang pernah terjadi, saat ulang tahun Presiden Prabowo Subianto tahun 2025 lalu, menu MBG yang disajikan seragam se-Indonesia, yakni nasi goreng dan telur. Hal itu ternyata berpengaruh pada harga telur di pasar.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," kata Dadan.

Baca selengkapnya di detikHealth.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Nanik Ogah Jawab Saat Ditanya Motor Listrik MBG, Pilih Menghindar"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads