Kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz mulai dikenakan tarif. Pemerintah Iran menetapkan tarif setara USD 1 atau Rp 17.122 per barel minyak muatan. Tarif ini dibayar menggunakan aset kripto atau bitcoin.
Dilansir detikFinance, Juru Bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran Hamid Hosseini mejelaskan pengenaan tarif ini merupakan salah satu strategi Iran untuk menghindari sanksi internasional dengan menggunakan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS).
Hosseini memaparkan tata laksana sistem baru ini. Kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mengirimkan e-mail lebih dulu kepada pihak berwenang Iran dan menginformasikan muatan apa yang dibawa. Kemudian muatan tersebut dihitung dan ditetapkan tarif yang harus dibayarkan. Kapal baru boleh melintas setelah pembayaran diterima pihak Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitu email tiba dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan bitcoin, untuk memastikan mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi," jelasnya kepada Financial Times, dikutip Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Bahlil Sebut Masa Kritis BBM Sudah Lewat |
Iran menerapkan langkah-langkah penilaian tersebut untuk memastikan kapal-kapal yang melintas tak membawa senjata. Produk lain termasuk minyak diperkenankan. Hosseini mengatakan, meskipun proses penilaian mungkin akan memakan waktu, Iran mengutamakan akurasi dan transparansi sehingga tidak akan terburu-buru dalam pemeriksaan.
"Semua barang bisa lewat, tetapi prosedurnya akan memakan waktu untuk setiap kapal, dan Iran tidak terburu-buru," ujarnya.
Diketahui, sejak perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari lalu, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Selat yang merupakan jalur pelayaran minyak utama dunia ini dilalui 20% minyak dunia. Penutupannya membuat ekonomi global terdampak.
Selama konflik, hanya sebagian kecil kapal yang diizinkan Iran untuk melewati selat tersebut dengan sistem pos tol. Terbatasnya jumlah kapal tersebut membuat kekhawatiran pasokan dan harga di dunia terus meningkat.
Baca selengkapnya di detikFinance.
