Presiden Prabowo Subianto menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis. Menurutnya, kondisi Indonesia masih baik-baik saja meskipun banyak negara mulai mengalami kesulitan akibat dinamika geopolitik saat ini.
Dalam Rapat Kerja dengan Anggota Kabinet Merah Putih pada Rabu (8/4), Prabowo awalnya menjawab soal kritik terhadap dirinya yang sering bepergian di luar negeri. Jadwalnya yang cukup sering itu disorot karena berlangsung di tengah kebijakan efisiensi.
Prabowo menegaskan bahwa agendanya itu bukan sekadar jalan-jalan, melainkan upaya diplomasi untuk mengamankan sumber energi Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri, senang jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara untuk amankan minyak ya gue harus ke mana-mana," tegas Prabowo.
Ia mencontohkan, ketika kunjungan ke Jepang, Indonesia mendapatkan komitmen dukungan dari pemerintah Jepang untuk meningkatkan produksi energi. Ia tegas meminta pemerintah Jepang untuk mendorong proyek migas raksasa di Blok Masela di perairan Maluku yang selama ini mandek dapat segera beroperasi. Diketahui blok migas tersebut salah satunya dikelola oleh raksasa migas Jepang, Inpex.
Prabowo berkomitmen terus melakukan upaya diplomasi ke berbagai negara untuk menjamin ketahanan energi domestik.
"Kita ke Jepang kemarin ya, kita dapat. Nih saya berangkat lagi nih, aku mau berangkat lagi ke sebuah negara. Nanti begitu aku berangkat kau tahu ke mana, amankan juga," sambungnya.
Karena itu, Prabowo meyakini saat ini Indonesia masih dalam situasi yang terkendali meskipun krisis mulai terjadi di berbagai negara. Ia menampik narasi tentang Indonesia gelap.
"Jadi saya nih confident, nggak ada itu, bagi saya Indonesia gelap itu nggak ada. Indonesia cerah di saat banyak negara susah," tegasnya.
Sebelumnya, Prabowo berjanji akan mempercepat birokrasi untuk proyek-proyek energi hijau Jepang di Indonesia. Ia menyebut beberapa proyek yang urusan birokrasinya akan dipercepat, misalnya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.
"Kami juga akan mendorong Asia Zero Emission Community di mana perusahaan-perusahaan Jepang terlibat di Indonesia dan kami akan mempercepat dan membantu debottlenecking proyek-proyek yang ada, sebagai contoh Legok Nangka maupun Sarulla," jelasnya.
Baca selengkapnya di detikFinance.
