Insiden jatuhnya pesawat kargo pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di Krayan, Kalimantan Utara (Kaltara), menyisakan duka mendalam atas meninggalnya pilot Capt Hendrick Lodewyck Adam. Ini sekaligus tamparan bagi pemerintah terkait akses jalan dan ketahanan energi di wilayah perbatasan.
Salah satu penyalur BBM Satu Harga wilayah Krayan Tengah dan Selatan, Rustam, mengungkapkan insiden kecelakaan pesawat kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan BBM dalam waktu dekat. Pesawat yang mengalami musibah tersebut merupakan menyuplai jatah solar dan pertalite setiap harinya.
"Kalau tidak ada pesawat pengganti, pasti terjadi kelangkaan BBM. Kita takutnya ada chaos di masyarakat nanti. Kami harap Pertamina atau Patra Logistik segera menyiapkan armada pengganti," tegas Rustam kepada detikKalimantan, Kamis (19/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rustam menjelaskan, ketergantungan pada pesawat kargo sangat berisiko tinggi. Dalam kondisi normal, pesawat harus terbang dua kali sehari untuk memenuhi kuota.
"Sekali terbang angkut 3 ton solar atau 4 ton pertalite. Bergantung pada cuaca pegunungan yang tidak menentu seperti ini, pasokan sangat rentan terputus," imbuhnya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Sebelum program BBM Satu Harga masuk lewat jalur udara pada 2018, Krayan bergantung pada pasokan dari Malaysia melalui jalur darat yang rusak parah.
"Dulu harga mencekik, dari Rp 30.000 sampai tembus Rp 60.000 per liter. Kami sangat tertolong sejak ada subsidi ini, tapi tragedi ini menunjukkan skema udara bukan solusi permanen," kata Rustam.
Tragedi ini menjadi momentum kuat bagi warga perbatasan untuk menuntut janji pemerintah terkait pembangunan infrastruktur darat. Jalur udara dinilai terlalu mahal dan berisiko nyawa.
"Harapan kami kepada pemerintah provinsi maupun pusat, segera tindak lanjuti pembangunan jalan menuju Krayan. Supaya akses ke kota maupun desa bisa lancar," tuntut Rustam.
Menurutnya, biaya angkut lewat darat jauh lebih efektif dan murah dibandingkan terus-menerus membiayai kargo udara yang kapasitasnya terbatas.
"Pihak Pertamina sudah pernah survei jalan nasional ini. Ini yang perlu segera dieksekusi. Jalan nasional harus segera ditembuskan ke Krayan agar kami tidak terisolir lagi," pungkasnya.
Senada dengan Rustam, Camat Krayan Roni Firdaus menyebutkan bahwa jatuhnya satu armada kargo ini membuat logistik di wilayahnya pincang. Dari empat SPBU yang melayani Krayan, kini beban angkut hanya bertumpu pada satu pesawat kecil.
"Sekarang tinggal tersisa satu armada lagi yang kapasitas muatnya hanya sekitar satu ton. Otomatis kita akan kekurangan dan terancam krisis untuk memenuhi kebutuhan BBM di Krayan," keluh Roni.
Roni memaparkan bahwa pesawat tersebut jatuh saat dalam perjalanan kembali ke Tarakan (kondisi kosong) untuk mengambil muatan berikutnya. Kondisi geografis yang ekstrem juga sempat menyulitkan proses evakuasi.
"Kita harus menyusuri jalan setapak. Dari jalan raya ke titik lokasi butuh waktu sekitar 45 menit dengan cuaca yang kurang bersahabat," jelasnya.
(bai/bai)
