Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik, aroma lilin hangat mulai menyelimuti sebuah rumah sederhana di Jalan Perdamaian, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Di sanalah Susanto (57) memulai harinya dengan menyalakan tungku, mengaduk cairan lilin, lalu menuangkannya perlahan ke dalam cetakan.
Susanto adalah seorang perajin lilin kelenteng. Lebih dari 12 tahun ia menekuni pekerjaan itu. Keputusan menjadi perajin lilin ia ambil sepulang merantau dari Jakarta.
Berbekal pengalaman bekerja di industri serupa, Susanto memilih pulang dan membangun usahanya sendiri di tanah kelahiran. Sejak itu, dapur produksinya tak pernah benar-benar berhenti. Di sanalah rutinitas dan kesabaran berpadu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi sebagian orang, lilin mungkin sekadar benda yang dinyalakan saat perayaan Imlek. Namun bagi Susanto, lilin adalah denyut hidup yang mengalir sepanjang tahun.
"Kalau Imlek, biasanya kami cuma tinggal kirim. Produksinya justru tetap jalan setiap hari," katanya, Sabtu (7/2/2026).
Ukuran lilin yang ia buat beragam. Dari lilin kecil seukuran jari hingga lilin raksasa setinggi orang dewasa. Bahkan, ada juga berbentuk drum besar yang lazim berdiri megah di altar kelenteng.
Harganya pun bervariasi, dari puluhan ribu rupiah hingga belasan juta rupiah. Namun, tahun 2026 membawa tantangan tersendiri. Pesanan tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Produksi tetap berjalan, meski penjualan kadang tak sejalan.
"Produksi tetap jalan. Soal laku atau tidak, itu urusan belakangan," ujarnya.
Meski demikian, lilin-lilin buatannya masih rutin dikirim ke Singkawang, Ngabang, dan sejumlah wilayah lain di Kalbar.
Ia menjaga kualitas dengan setia menggunakan bahan baku lilin yang didatangkan dari Jakarta. Menurutnya, lilin kelenteng harus menyala stabil, tanpa asap berlebihan, tanpa cepat padam, karena menyimpan harapan banyak orang.
Di tengah perubahan zaman dan tantangan ekonomi, Susanto memilih bertahan. Ia tak sekadar memproduksi lilin, melainkan merawat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap nyala yang terpantul di dinding kelenteng, bagi Susanto, adalah doa yang menemukan jalannya. Dan selama masih ada yang berdoa, ia akan terus menjaga cahaya itu agar tak pernah padam.
Simak Video "Menemukan Lulur Alami dari Daun Aras di Kalimantan Barat"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
