Di tengah keterbatasan akses pendidikan di pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim), hadir taman baca bagi anak-anak di Kecamatan Long Apari. Perpustakaan yang dibuka di Polsek Long Apari itu juga disiapkan sebagai ruang aman bagi anak-anak di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.
Dir Binmas Polda Kaltim Kombes Arman mengatakan taman baca itu sebenarnya bermula dari program yang dirintis pada 2021, saat pandemi COVID-19. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan bisa memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar, membaca, sekaligus bermain meski tinggal jauh dari pusat kabupaten.
"Keprihatinan kami ada anak yang belum bisa baca, jadi kami memfasilitasi di Polsek itu. Kami membuat taman bacaan, perpustakaan Polsek, sekalian Polsek itu menjadi zona aman bagi anak-anak dan telah berjalan sampai sekarang," ujar Arman kepada detikKalimantan, Selasa (27/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arman menjelaskan, taman baca tersebut terbuka bagi anak-anak. Untuk tetap membangkitkan semangat mereka dalam belajar, disediakan pula permainan seperti Lego agar anak-anak merasa nyaman.
"Siapa pun boleh masuk, boleh baca. Di situ kita siapkan permainan Lego, mereka senang," katanya.
Menurut Arman, konsep ruang aman itu bukan berarti lingkungan setempat selalu berada dalam kondisi berbahaya. Fasilitas tersebut menjadi salah satu upaya untuk menyediakan tempat yang dapat diakses anak-anak sekaligus mendukung kegiatan positif mereka.
"Zona aman itu untuk anak-anak, jadi kita membuat zona aman agar mereka tidak terikut pergaulan bebas. Tapi sejauh ini wilayah Long Apari termasuk aman untuk anak-anak," jelasnya.
Mengajar Pendidikan Agama di Pedalaman
Di antara personel kepolisian di Long Apari, ada Bripka Jajang Kurnia yang turut mengajar di sekolah dasar. Jajang mengajar pendidikan agama Islam di SDN 02 Tiong Ohang selama 6 tahun.
"Saat ini saya juga fokus mengajar di SDN 02 Tiong Ohang, sejak tahun 2022," ujar personel Bhabinkamtibmas Kampung Tiong Ohang Polsek Long Apari tersebut.
Jajang mengajar setiap Senin-Kamis dengan total murid sebanyak 21 orang. Kegiatan mengajar tersebut dijalaninya sebagai kesempatan untuk belajar bersama anak-anak sekaligus menambah pengalaman.
"Asyik saja, tidak ada tantangan dalam mengajar karena sama-sama belajar kami. Mayoritas siswa beragama Kristen dan Protestan, jadi saya (mengajar) untuk siswa beragama Islam dari kelas 1 sampai 6, mengajar sesuai yang telah diatur oleh sekolah setelah itu kembali ke aktivitas biasa (sebagai polisi)," pungkasnya.
