Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, dikhawatirkan merembet ke permukiman warga. Titik api di kawasan Sungai Buluh Kecil kini dilaporkan hanya berjarak sekitar empat kilometer dari Desa Teluk Pulai yang dihuni 495 jiwa.
Warga bersama tim gabungan kini berpacu dengan waktu untuk mencegah api menjalar ke permukiman. Selain mengancam keselamatan warga, kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan itu juga memicu kabut asap dan mengganggu akses transportasi masyarakat.
Kepala Desa Teluk Pulai, Herliyus Cristian, mengatakan kebakaran di kawasan Sungai Buluh Kecil sudah mendekati sungai. Kondisi tersebut membuat warga semakin khawatir api meluas hingga ke wilayah desa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berupaya keras agar api tidak merembet ke desa. Kebakaran sudah mendekati sungai, sementara jarak titik api ke desa kami sekitar empat kilometer," kata Herliyus, Rabu (21/10/2026).
Untuk mengantisipasi penyebaran api, sebanyak 60 personel Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Teluk Pulai bersama lima personel Polsek Kumai dikerahkan ke lokasi kebakaran. Mereka berupaya memadamkan api di tengah kondisi kebakaran yang terus mengancam kawasan sekitar.
"Kebakaran tidak hanya terjadi di Sungai Buluh Kecil. Titik api juga dilaporkan muncul di kawasan Sungai Buluh Besar. Sejumlah relawan turut diterjunkan untuk membantu pengendalian kebakaran di wilayah tersebut," katanya.
Penanganan karhutla melibatkan MPA Desa Teluk Pulai, kelompok KTPA dari PT ASMR (BGA Group), serta personel Polsek Kumai. Seluruh tim berupaya menahan laju api agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Di tengah ancaman kebakaran, warga Teluk Pulai juga harus menghadapi kesulitan transportasi yang telah berlangsung hampir tiga bulan. Desa yang berada di kawasan penyangga TNTP itu mengandalkan jalur air untuk bepergian menuju ibu kota Kecamatan Kumai.
Kabut asap dan kondisi gelombang laut yang kurang bersahabat membuat perjalanan semakin sulit. Waktu tempuh menggunakan speedboat yang biasanya hanya sekitar satu jam kini bisa membengkak hingga dua hari.
"Kami tidak bisa berbuat banyak sejak kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting yang menyebabkan kabut asap. Untuk sampai ke Kumai bisa dua hari, padahal biasanya hanya satu jam," ujarnya.
Sementara itu, kebakaran juga dilaporkan terjadi di kawasan Sungai Sekonyer. Wilayah tersebut merupakan salah satu jalur transportasi air dari Pelabuhan Kumai menuju kawasan konservasi dan rehabilitasi orang utan di TNTP. Kawasan ini juga menjadi bagian dari ekosistem rawa gambut yang menyimpan keanekaragaman flora dan fauna.
Herliyus berharap pemerintah dan pengelola TNTP dapat mengkaji usulan pembangunan jalan darat yang menghubungkan Desa Teluk Pulai dengan Desa Sekonyer yang diperkirakan berjarak sekitar lima kilometer.
Namun, rencana jalan darat tersebut perlu dikaji secara matang karena berkaitan dengan kawasan taman nasional yang memiliki fungsi konservasi. Pembangunan harus mempertimbangkan ketentuan yang berlaku serta kelestarian lingkungan.
"Untuk saat ini, keselamatan warga menjadi perhatian utama. Warga berharap upaya pemadaman di Sungai Buluh Kecil dan Sungai Buluh Besar segera membuahkan hasil, terutama untuk mencegah api yang berjarak sekitar empat kilometer itu mencapai permukiman," pungksnya.
