Kualitas udara di Kota Balikpapan sempat berada pada kategori sedang sejak Minggu (18/10/2026). Namun kini kembali berstatus kuning atau tidak sehat.
Secara kasat mata, asap terpantau menebal di udara hingga siang hari. Langit menjadi abu-abu tampak berkabut. Matahari terlihat lebih redup namun hawa udara tetap terasa panas.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLH/BPLH, kualitas udara di Sepinggan, Balikpapan Selatan, berada dalam kategori Tidak Sehat. Adapun nilai ISPU PM2.5 berada di angka 119 pada pukul 13.00 Wita, Selasa (20/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana mengatakan perubahan kualitas udara dipengaruhi cuaca dan arah angin. Pergerakan angin tersebut dapat memperburuk kualitas udara di Balikpapan.
"Faktor kualitas udara saat ini juga dipengaruhi cuaca, baik itu angin dan hujan," ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Sudirman memastikan kabut asap ini bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah kota. Asap tersebut terbawa angin dari wilayah terdampak hingga mencapai Balikpapan dan meningkatkan konsentrasi polutan di udara.
"Karena Balikpapan ini bukan tempat terbakarnya hutan, yang terbakar itu di wilayah sekitarnya Balikpapan," ucapnya.
Pemantauan kualitas udara dilakukan selama 24 jam melalui dua titik Air Quality Monitoring System (AQMS). Partikulat halus PM2,5 menjadi salah satu parameter yang dipantau untuk mengetahui kualitas udara.
"Kita pantau kualitas udara di Balikpapan berdasarkan alat yang kita miliki dan itu dimonitoring 24 jam," kata Sudirman.
Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Warga juga disarankan mengurangi kegiatan di luar dan memperbanyak aktivitas di dalam ruangan.
"Tetap menggunakan masker. Kalau bisa mengurangi aktivitas luar ruangan dan lebih banyak berkegiatan di dalam ruangan," pungkasnya.
