Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, belum sepenuhnya membaik. Permasalahan diperparah pemadaman listrik bergilir. Aktivitas warga terganggu, termasuk anak-anak sekolah yang tengah menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Keluhan itu dirasakan Masri, warga Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan. Pada Selasa (20/10/2026), dia mengaku bingung ketika listrik tiba-tiba padam saat anak-anak sedang mengikuti pembelajaran secara daring. Menurutnya, pemadaman listrik membuat kegiatan belajar anak-anak tidak berjalan lancar. Koneksi dan perangkat yang membutuhkan daya listrik menjadi kendala, sementara pembelajaran daring mengharuskan siswa mengikuti kegiatan belajar dari rumah.
"Anak-anak sedang PJJ, tiba-tiba kena pemadaman. Bagaimana mereka mau belajar kalau harus lewat online?" keluh Masri, Selasa (20/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi semakin tidak nyaman karena kabut asap masih menyelimuti wilayah Kobar. Ketika listrik padam, warga tidak bisa menggunakan kipas angin maupun pendingin ruangan untuk membantu mengurangi rasa gerah di dalam rumah.
"Sudah asap, mati lampu juga. Bingung juga," ujarnya.
Persoalan tersebut turut mendapat sorotan Ketua Komisi C DPRD Kobar H Arief Asyrofi. Dia menyayangkan pemadaman bergilir yang masih terjadi hingga Oktober, padahal gangguan pasokan listrik sebelumnya diharapkan bisa selesai pada September
Arief memahami sistem kelistrikan yang terhubung dengan daerah lain, termasuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, berpotensi ikut terdampak ketika terjadi gangguan.
"Masyarakat tetap membutuhkan kepastian mengenai penyelesaian persoalan tersebut," ujarnya.
Komisi C DPRD Kobar sebelumnya telah memanggil Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Pangkalan Bun untuk membahas gangguan kelistrikan. Persoalan serupa juga dibicarakan dalam rapat dengar pendapat gabungan yang melibatkan PLN dan Pertamina. Dalam pembahasan tersebut, penyelesaian gangguan pasokan listrik sempat ditargetkan pada September.
"Namun, pemadaman yang masih berlangsung hingga pertengahan Oktober membuat masyarakat mempertanyakan kapan pasokan listrik di Pangkalan Bun dan sekitarnya kembali stabil," katanya.
Arief menegaskan gangguan listrik menjadi persoalan yang semakin berat ketika warga juga harus menghadapi kabut asap karhutla. Dia berharap PLN segera mengambil langkah konkret untuk menuntaskan gangguan pasokan listrik sekaligus memberikan kejelasan kepada masyarakat mengenai perkembangan penanganannya.
"Selain menghambat aktivitas, kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan menggunakan peralatan rumah tangga untuk menjaga kenyamanan di dalam ruangan," ujarnya.
