Beberapa PAUD dan TK di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tak mengambil langkah pembelajaran jarak jauh (PJJ). Meskipun, saat ini Kabupaten Banjar telah menetapkan status Tanggap Darurat.
Salah satu orang tua siswa bernama Dina mengatakan bahwa anaknya memiliki penyakit pernapasan bawaan. Bahkan dalam beberapa waktu belakangan ini, penyakit anaknya sering kali kambuh yang mengharuskan untuk di nebu.
"Anak saya sudah beberapa kali ini harus nebu, karena memang dia merasa sesak nafasnya," kata Dina, Selasa (20/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Dina menyebut banyak anak lain juga mengalami batuk pilek selama kabut asap berlangsung. Menurutnya, kabut asap yang terjadi di Cindai Alus, Martapura memang tidak kelihatan tebal, namun bau asap tetap tercium dan mengganggu pernafasan.
"Banyak anak-anak itu terkena batuk pilek sampai sesak nafas, memang di sini tidak keliatan asapnya tapi sangat terasa baunya dan sangat mengganggu," sebutnya.
Kualitas udara di Kabupaten Banjar, Selasa (20/10/2026). Foto: Khairun Nisa/detikKalimantan |
Dina menjelaskan apabila kabut asap menebal, maka jam masuk sekolah anak-anak akan dimundurkan. Kendati demikian, langkah itu dinilai kurang efektif. Meski semakin siang kabut melandai, tetap ada partikel-partikel kecil yang bisa berbahaya bagi kesehatan anak.
Dina berharap pemangku kebijakan setempat bisa mengambil tindakan untuk mengeluarkan edaran pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ia tidak ingin ada lebih banyak korban yang berjatuhan karena kabut asap ini.
"Kalau bisa kita meminta kebijakannya untuk anak-anak PAUD atau TK ini bisa PJJ. Kasihan anak-anak ini terkena dampaknya," ujarnya.
Wali murid bernama Wahyu Firdha mengeluhkan hal serupa. Anaknya bersekolah di sebuah TK di Kabupaten Banjar dan tidak ada kebijakan PJJ yang diambil oleh pemerintah setempat.
"Sampai saat ini anak masih turun seperti biasa, tidak ada PJJ juga," tuturnya.
Wahyu berharap ada kebijakan PJJ bagi siswa-siswa yang ada di Kabupaten Banjar setidaknya sampai kabut asap ini melandai dan hujan mulai turun di Kalsel.
"Karena jika sudah hujan, kita yakin kabut ini melandai. Semoga ada kebijakan terkait hal ini," ucap Wahyu.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SD Kabupaten Banjar Eddy Rachman mengatakan pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah. Surat edaran itu memberikan keleluasaan kepada sekolah dalam menentukan metode pembelajaran selama kabut asap. Dimana, ada tiga pilihan yang bisa diambil sekolah.
"Disdik sudah membuat surat edaran yang memberi kebebasan kepada sekolah dalam menentukan metode pembelajaran," kata Eddy.
Adapun metode yang diberikan Disdik Banjar yakni pembelajaran tatap muka dengan jam masuk siang, pembelajaran jarak jauh, atau dikombinasikan keduanya. Disdik juga telah memberi kelonggaran untuk para guru maupun siswa yang memiliki penyakit asma, atau penyakit pernafasan agar bisa diberikan izin untuk tidak masuk ke sekolah.
"Disdik Banjar tetap mengutamakan kesehatan tidak hanya guru, tetapi juga siswa. Bagi guru yang sakit bisa mengajukan cuti sakit dengan melampirkan surat keterangan dari yang berwenang," pungkas Eddy.

