Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni langsung melanjutkan pemantauan ke wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Dalam peninjauan Sabtu (17/10/2026) malam, dia memastikan upaya pemadaman dilakukan secara maksimal untuk mencegah api terus meluas. Raja Juli melihat langsung lahan yang terdampak kebakaran sekaligus memantau kerja petugas yang masih berupaya mengendalikan api.
"Penanganan menjadi perhatian serius karena kebakaran terjadi di lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah," ujar Raja Juli di Sampit, Sabtu malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut membuat pekerjaan petugas tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat. Area yang sudah ditangani harus diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada bara tersisa yang dapat memicu kebakaran susulan.
Sejumlah unsur dikerahkan dalam operasi pemadaman. Petugas Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan bahu-membahu menangani kebakaran di lapangan.
Raja Juli meminta seluruh personel memastikan api benar-benar padam. Pemantauan lanjutan juga harus dilakukan secara cermat, terutama pada lahan yang telah terbakar, agar titik api tidak kembali muncul.
Peninjauan tersebut turut dihadiri Bupati Kotim Halikinnor, Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, Dandim 1015 Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, serta Asisten II Hawianan. Sejumlah pejabat perangkat daerah dan unsur penanganan karhutla juga hadir untuk mengikuti koordinasi di lokasi.
Setelah memeriksa kondisi lapangan, Raja Juli menggelar rapat koordinasi guna membahas langkah penanganan lanjutan. Pemerintah, kata dia, akan mengoptimalkan operasi pemadaman melalui jalur udara maupun darat.
Ingatkan Pemda Agar Manfaatkan Banpres Rp 15 M
Raja Juli juga menyinggung dukungan anggaran dari Presiden untuk penanganan karhutla di Kotim sebesar Rp 15 miliar. Dia meminta pemerintah daerah memanfaatkan bantuan tersebut secara maksimal sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
"Kemarin Pak Presiden sudah menurunkan Banpres untuk Kotim, Rp 15 miliar. Mohon itu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kalau masih kurang, tentu kami juga bisa support lagi secara parsial di mana yang kita butuhkan," ujar Raja Antoni.
Dia menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Operasi udara perlu berjalan beriringan dengan pengerahan personel di darat agar upaya pemadaman dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
"Udara kita maksimalkan dengan water bombing, dry ice dan operasi modifikasi cuaca, dan juga pasukan darat karena ini sangat penting sekali," pungkasnya.
