Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus dilakukan. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut operasi water bombing di kawasan Tanjung Puting telah dilakukan sebanyak 16 kali pada Sabtu (17/10/2026) siang.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan helikopter untuk meningkatkan intensitas pemadaman. Dua helikopter dari TNI dan satu helikopter dari Kementerian Kehutanan direncanakan ikut memperkuat operasi udara tersebut.
"Alhamdulillah mulai kemarin sudah berusaha untuk diterbangkan dan hari ini berhasil untuk melakukan water bombing 16 kali water bombing. Kita tambah lagi nanti ada dua heli dari TNI dan satu dari kehutanan. Jadi kita akan lakukan water bombing secara maksimum," kata Raja Juli yang saat ini masih di kawasan Tanjung Puting, Sabtu (17/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengerahan armada udara ini dilakukan di tengah kendala jarak pandang yang membatasi penerbangan helikopter pemadam di sejumlah bandara utama Kalimantan Tengah. Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah mengalihkan helikopter water bombing yang sebelumnya berada di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, menuju Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan.
Menurut Raja Juli, langkah pengalihan armada diambil agar operasi pemadaman tetap dapat berjalan meski kondisi penerbangan di sejumlah wilayah belum mendukung.
"Operasi udara kedua ya, water bombing yang sudah saya janjikan sebelumnya karena seluruh airport utama di Tjilik Riwut tidak bisa diterbangkan helikopter bombing karena visibility yang terbatas. Maka kita geser helikopter bombing yang ada di Samsudin Noor Kalimantan Selatan ke Kuala Pembuang. Kuala Pembuang di Seruyan, ya," ujarnya.
Namun, pemindahan armada tersebut sempat menghadapi persoalan lain. Ketersediaan avtur di Kuala Pembuang menjadi kendala yang harus segera diselesaikan agar helikopter dapat menjalankan misi pemadaman.
Raja Juli mengatakan pemerintah langsung berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk memastikan pasokan bahan bakar tersedia. Menurutnya, komunikasi dengan Direktur Utama Pertamina membuahkan solusi sehingga kebutuhan avtur untuk mendukung operasi water bombing dapat dipenuhi.
"Ada masalah dengan avtur ya karena tidak tersedia avtur di Kuala Pembuang. Alhamdulillah tadi saya telepon Dirut Pertamina, beliau juga secara cepat, secara menyediakan avtur untuk water bombing," katanya.
Selain menjatuhkan air dari udara, Kementerian Kehutanan juga menjalankan dua strategi lainnya, yakni Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl) serta OMC menggunakan dry ice atau es kering.
Ketiga metode tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan penanganan karhutla melalui jalur udara. Water bombing diarahkan untuk membantu memadamkan titik api, sedangkan OMC dilakukan untuk mendukung upaya menghadirkan hujan melalui proses penyemaian awan sesuai kondisi atmosfer.
Hujan Mulai Guyur Kalteng
Sementara itu, hujan diketahui mengguyur sejumlah wilayah di provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 15-16 Oktober 2026, di tengah upaya pemerintah memaksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Hujan dilaporkan turun di wilayah Katingan Selatan, Kota Palangka Raya, dan Kasongan. Sementara itu, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), juga mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Iskandar Kotawaringin Barat BMKG, Nur Setiawan, mengatakan potensi hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah pada 15-16 Oktober memang telah diperkirakan cukup tinggi.
"Jadi sebagaimana yang kita sampaikan pada rapat terbatas pada hari Kamis sore, yang mana kami sampaikan bahwa potensi hujan yang banyak terjadi di wilayah Kalimantan Tengah pada tanggal 15 dan 16 cukup tinggi," kata Nur Setiawan, Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, BMKG terus memberikan dukungan melalui pemantauan dan analisis kondisi cuaca untuk membantu pemerintah dalam penanganan karhutla. Informasi mengenai potensi awan hujan menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan OMC.
