Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menyisakan persoalan yang lebih luas dari sekadar lahan terbakar. Di balik kepulan asap, masyarakat menghadapi ancaman gangguan kesehatan, aktivitas pendidikan yang terganggu, hingga potensi penurunan pendapatan warga.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kobar, Hazriansyah, mengingatkan karhutla berpotensi memicu kerentanan sosial di tengah masyarakat. Dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan lebih.
"Dampak sosialnya antara lain gangguan kesehatan masyarakat, terganggunya proses belajar mengajar pendidikan, menurunnya aktivitas masyarakat, berkurangnya pendapatan masyarakat, meningkatnya beban ekonomi keluarga, serta munculnya rasa takut, ketidaknyamanan, dan kecemasan warga," kata Hazriansyah, Selasa (13/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, gangguan kesehatan menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi ketika asap karhutla mencemari udara. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat khawatir untuk beraktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan yang memerlukan perlindungan lebih terhadap paparan asap.
"Dampaknya juga berpotensi menjalar ke sektor pendidikan. Kualitas udara yang buruk dapat mengurangi kenyamanan siswa dan tenaga pengajar dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Namun, besaran gangguan pendidikan akibat karhutla di Kobar masih memerlukan data lebih lanjut dari instansi terkait," katanya.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat juga berisiko terdampak. Warga yang mengandalkan pekerjaan harian maupun usaha yang bergantung pada aktivitas luar ruangan berpotensi mengalami penurunan penghasilan ketika kegiatan mereka terganggu.
"Situasi tersebut dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga. Ketika pemasukan berkurang, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Bagi rumah tangga dengan penghasilan terbatas, kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan ekonomi jika karhutla berlangsung dalam waktu lama," ujarnya.
Tak hanya berdampak secara fisik dan ekonomi, kebakaran juga dapat memengaruhi kondisi psikologis warga. Ancaman api, paparan asap, serta ketidakpastian kondisi lingkungan bisa memunculkan rasa takut, cemas, dan tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Hazriansyah menegaskan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Dinas Sosial memiliki peran dalam mitigasi risiko sosial, perlindungan kelompok rentan, penanganan kedaruratan, hingga membantu pemulihan kehidupan sosial masyarakat setelah bencana.
Upaya itu dapat dilakukan melalui pendataan warga terdampak, identifikasi kelompok yang membutuhkan perlindungan khusus, serta pemetaan kebutuhan dasar masyarakat. Dengan begitu, bantuan sosial dapat disalurkan sesuai kondisi dan kebutuhan warga di lapangan.
"Koordinasi lintas instansi juga diperlukan agar penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api dan pemulihan lingkungan. Dampak terhadap kesehatan, pendidikan, penghasilan, serta kondisi psikologis masyarakat perlu diperhitungkan dalam upaya penanggulangan bencana," pungkasnya.
Bagi Kobar, karhutla menjadi pengingat bahwa dampak bencana dapat meluas hingga menyentuh ketahanan ekonomi dan kehidupan sosial keluarga. Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat rentan dan pemulihan kondisi warga perlu berjalan seiring dengan upaya pengendalian kebakaran.
