Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu penerbangan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Jarak pandang yang rendah di Bandara Iskandar Pangkalan Bun menyebabkan sejumlah penerbangan Batik Air dan NAM Air dibatalkan pada Minggu (11/10/2026).
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Iskandar Pangkalan Bun, Asri Alie, mengatakan jarak pandang di bandara sejak pagi hingga pukul 12.00 WIB berada di kisaran 200 meter. Kondisi tersebut dinilai sangat rendah untuk mendukung operasional penerbangan.
"Jarak pandang dari pagi hingga siang ini masih di kisaran 200 meter," kata Asri, Minggu (11/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat kondisi tersebut, tiga layanan penerbangan Batik Air dibatalkan. Penerbangan yang terdampak meliputi rute Jakarta-Pangkalan Bun-Jakarta (CGK-PKN-CGK), Surabaya-Pangkalan Bun-Surabaya (SUB-PKN-SUB), serta Semarang-Pangkalan Bun-Semarang (SRG-PKN-SRG).
"Tak hanya Batik Air, NAM Air juga membatalkan seluruh rute penerbangannya pada hari yang sama. Pembatalan ini menambah dampak kabut asap terhadap kelancaran transportasi udara di wilayah Kobar," ujarnya.
Asri menjelaskan, jarak pandang di Bandara Iskandar masih berada pada rentang 200-700 meter. Perubahan visibilitas tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kelanjutan operasional penerbangan.
"Kondisi ini kembali menunjukkan dampak karhutla yang meluas hingga sektor transportasi. Kabut asap bukan hanya mengganggu aktivitas warga di darat, tetapi juga dapat menghambat perjalanan masyarakat yang mengandalkan transportasi udara," katanya.
Pembatalan penerbangan berpotensi mengubah rencana perjalanan penumpang, baik yang hendak berangkat dari Pangkalan Bun maupun yang akan menuju Kobar. Penumpang diimbau memantau informasi terbaru dari maskapai terkait jadwal keberangkatan dan kebijakan perjalanan.
"Berulangnya gangguan penerbangan akibat rendahnya jarak pandang menjadi perhatian bagi masyarakat dan pengguna jasa transportasi udara di Kobar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kebakaran lahan dan kabut asap, tetapi turut mengganggu mobilitas masyarakat," pungkasnya.
