Kemarau Panjang, Petani Balikpapan Terancam Lewatkan 2 Musim Tanam

Kemarau Panjang, Petani Balikpapan Terancam Lewatkan 2 Musim Tanam

Ary Nindita Intan RS - detikKalimantan
Kamis, 01 Okt 2026 16:30 WIB
Lahan persawahan di kawasan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan terlihat kering kerontang.
Lahan persawahan di kawasan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan terlihat kering kerontang/Foto: Ary Nindita Intan RS/detikKalimantan
Balikpapan -

Lahan persawahan di kawasan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan terlihat kering kerontang. Kondisi tersebut merupakan dampak kemarau panjang.

Dalam pengamatan detikKalimantan, sebagian lahan yang biasanya digunakan untuk menanam padi kini belum dapat digarap. Permukaan tanah di area persawahan tampak mengeras akibat minimnya pasokan air.

Ketua Kelompok Tani Karya Bina Bersama, Romadhon mengakui dampak kemarau tahun ini terasa lebih berat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi itu turut memukul perekonomian para petani di wilayahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"El Nino tahun ini memang lebih parah ketimbang tahun sebelumnya. Ini juga berdampak pada perekonomian kami," ujarnya, Kamis (1/10/2026).

Fenomena El Nino membuat petani gigit jari karena harus kehilangan satu masa tanam. Petani terancam mengalami gagal tanam hingga dua kali berturut-turut jika kemarau bertahan hingga akhir tahun 2026.

"Satu musim tanam kami sudah hilang, ini sangat memukul petani. Kalau El Nino sampai Desember, bisa jadi kami gagal tanam dua kali," kata Romadhon.

Kelompok Tani Karya Bina Bersama mengelola lahan pertanian hingga mencapai 53 hektare. Dalam kondisi normal, setiap hektare lahan dapat menghasilkan sekitar 5 ton gabah dalam sekali panen.

Para petani di Gunung Binjai biasanya mulai mengolah tanah pada Oktober. Kemudian masa panen berlangsung pada Desember, lalu berlanjut ke masa tanam berikutnya hingga panen kembali di bulan Maret.

"Sama seperti tahun kemarin, tapi tahun lalu kami baru mulai menanam di bulan November. Kalau cuaca bagus, walau sempat kemarau tapi masih ada hujan, jadi masih bisa menanam padi," ulas Romadhon.

Pola tanam tersebut berubah total akibat kemarau panjang. Petani kini mulai mempertimbangkan tanaman jagung sebagai alternatif. "Kalau seperti ini, kita mungkin beralih ke jagung. Tapi masih percobaan, dulu pernah kami coba, seperti di daerah Sulawesi dua kali tanam padi lalu jagung, tapi gagal," ungkapnya.

Kini, para petani hanya bisa berharap hujan mulai turun pada Oktober 2026 ini. Dengan begitu, tanah pertanian yang telah disiapkan bisa segera digarap.

"Semoga saja bulan Oktober ini sudah mulai hujan, sehingga kita bisa mulai menanam padi," pungkasnya.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads