Lubang Buaya yang berlokasi di Jakarta Timur menjadi saksi bisu kekejaman pada dini hari 1 Oktober 1965. Di sana terdapat sebuah sumur tua yang menjadi tempat ditemukannya jenazah tujuh perwira TNI Angkatan Darat yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.
Ketujuh korban tersebut terdiri atas enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan seorang perwira pertama, yakni Lettu Pierre Andreas Tendean. Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada mereka. Jenazah ketujuhnya ditemukan di Sumur Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965 dan dievakuasi pada 4 Oktober 1965.
Daftar 7 Pahlawan Revolusi yang Ditemukan di Lubang Buaya
Berikut nama-nama yang jenazahnya ditemukan di sumur Lubang Buaya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Letnan Jenderal Ahmad Yani
Ahmad Yani merupakan Panglima Angkatan Darat pada 1965. Ahmad Yani menjadi salah satu perwira tinggi yang menjadi sasaran penculikan pada dini hari 1 Oktober 1965.
Ahmad Yani tewas di kediamannya ketika pasukan datang untuk membawanya. Jenazahnya kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya dan ditemukan bersama enam korban lainnya di dalam sumur.
2. Mayor Jenderal R. Soeprapto
Raden Soeprapto ketika itu menjabat sebagai Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Administrasi. Ia menjadi salah satu perwira tinggi yang diculik pada dini hari 1 Oktober 1965. Soeprapto kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya dan jenazahnya ditemukan di dalam sumur pada 3 Oktober 1965.
3. Mayor Jenderal M.T. Haryono
Saat penculikan terjadi, Mas Tirtodarmo Haryono menjabat sebagai Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Perencanaan dan Pembinaan sejak 1 Juli 1964. Pada dini hari 1 Oktober 1965, M.T. Haryono berada di kediamannya di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta bersama istri dan anak-anaknya.
Sekitar pukul 04.00, pasukan yang datang untuk menculiknya mendatangi rumahnya dengan alasan bahwa ia diperintahkan menghadap Presiden. Haryono mencurigai kedatangan mereka dan meminta agar mereka kembali pada pagi hari. M.T. Haryono kemudian menyuruh istri dan anak-anaknya berpindah ke kamar lain sebelum pasukan tersebut mendobrak masuk.
4. Mayor Jenderal S. Parman
Siswondo Parman merupakan Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Intelijen. Pada dini hari tersebut, S. Parman berada di kediamannya di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta. Dirinya terbangun sekitar pukul 04.00 setelah mendengar suara dari luar rumah. Sekelompok pasukan kemudian mendatangi rumahnya dan menyampaikan bahwa ia diperintahkan untuk menghadap Presiden. Parman akhirnya dibawa dari rumahnya dan kemudian menuju kawasan Lubang Buaya.
5. Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan
Donald Isaac Panjaitan menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik. D.I. Panjaitan mulai menduduki jabatan tersebut pada Mei 1962, setelah sebelumnya bertugas sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.
Pada 1 Oktober 1965, pasukan penculik mendatangi kediamannya di Jalan Hasanuddin Nomor 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rumahnya dikepung dari berbagai arah oleh pasukan yang datang menggunakan dua truk. Panjaitan sempat mengira kedatangan pasukan tersebut adalah untuk membawanya bertemu Presiden Soekarno.
Ia bersiap mengenakan pakaian rapi dan lengkap seolah memang hendak memenuhi panggilan resmi. Situasi berubah ketika pasukan tersebut mulai merusak dan menembaki barang-barang di dalam rumah. Panjaitan ditembak di halaman rumahnya dan kemudian dibawa pergi menuju kawasan Lubang Buaya. Jenazahnya kemudian ditemukan bersama korban lainnya di sumur Lubang Buaya.
6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo merupakan Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat. Sutoyo diculik dari kediamannya pada dini hari 1 Oktober 1965 dan dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Jenazah Sutoyo kemudian ditemukan di dalam sumur tua bersama enam korban lainnya.
7. Lettu Pierre Andreas Tendean
Pierre Andreas Tendean merupakan perwira TNI Angkatan Darat yang ketika itu bertugas sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution, Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
Sebagai ajudan, Pierre Tendean tinggal di paviliun di bagian belakang kediaman keluarga Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan yang datang untuk menculik A.H. Nasution mengepung kediaman Nasution.
Dalam kegelapan, Pierre Tendean yang berada di rumah Nasution kemudian ditangkap oleh pasukan tersebut. Tandean akhirnya dibawa ke kawasan Lubang Buaya dan menjadi salah satu korban yang jenazahnya ditemukan di sumur pada 3 Oktober 1965.
Kapan Jenazah Ditemukan?
Setelah pencarian terhadap para perwira yang hilang dilakukan, informasi mengenai keberadaan mereka mengarah ke kawasan Lubang Buaya. Pada 3 Oktober 1965, lokasi sumur ditemukan. Jenazah ketujuh korban kemudian dievakuasi pada 4 Oktober oleh tim yang dipimpin Kapten KKO Winanto. Kementerian Pertahanan mencatat bahwa sejumlah prajurit RPKAD dan KKO-AL terlibat dalam proses pengangkatan jenazah dari sumur tersebut.
Pada 5 Oktober 1965, jenazah ketujuh Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari ABRI.
Nama-Nama Lain yang Gugur
Selain tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dan ditemukan di sumur Lubang Buaya, terdapat beberapa nama lain yang menjadi korban Gerakan 30 September. Brigadir Polisi Karel Sadsuitubun juga gugur dalam rangkaian peristiwa tersebut. Ia ditembak ketika melakukan perlawanan saat kelompok penculik berusaha memasuki kediaman Jenderal A.H. Nasution.
Putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, juga tertembak dalam peristiwa tersebut dan kemudian meninggal dunia. Keduanya tidak ditemukan di Sumur Lubang Buaya. Selain itu, di Yogyakarta terdapat korban lain dalam rangkaian peristiwa 1965, yaitu Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono. Keduanya diculik dan dibunuh di Yogyakarta.
Itulah dia tujuh korban yang ditemukan di sumur Lubang Buaya, serta nama-nama lain yang menjadi korban kekejian Gerakan 30 September 1965. Semoga bermanfaat!
