Pemerintah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terus memperkuat strategi menghadapi karhutla dan kekeringan dengan menambah sumber air di wilayah rawan. Sebanyak 195 sumur bor dan 14 titik sarana air bersih diusulkan untuk dibangun guna mendukung penanganan kebakaran sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Pangeran S Pandiangan mengatakan, kondisi karhutla dan kekeringan dievaluasi setiap hari. Evaluasi dilakukan melalui rapat daring pada pagi dan malam hari dengan membahas perkembangan titik api, luasan lahan terbakar, penanganan di lapangan, hingga dampak asap terhadap masyarakat.
"Setiap hari kita evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan. Termasuk berapa kejadian yang ditangani dan bagaimana perkembangannya di lapangan," kata Pangeran saat rapat evaluasi di Posko Induk Karhutla, halaman BPBD Kapuas, Kamis (24/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pangeran, evaluasi tidak berhenti pada rapat koordinasi. Petugas juga kembali mendatangi lokasi yang sebelumnya terbakar untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran baru.
Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi kering dapat membuat lahan yang telah dipadamkan kembali terbakar. Karena itu, pengecekan ulang dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan kebakaran susulan.
"Di tengah keterbatasan sumber air, pemerintah daerah menginventarisasi kebutuhan pembangunan 195 sumur bor serta 14 titik sarana air bersih. Usulan tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan air di wilayah yang terdampak kekeringan sekaligus mendukung operasi pemadaman karhutla," katanya.
Sekda Kapuas Dr Usis I Sangkai meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi agar pembangunan sarana air benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan. Menurutnya, pemetaan wilayah menjadi penting sehingga fasilitas yang dibangun tidak salah sasaran.
"Perkuat koordinasi sehingga data yang disampaikan benar-benar data riil di lapangan," tegas Usis.
Usis menyampaikan arahan Bupati Kapuas HM Wiyatno agar pembangunan sumur bor tidak hanya diposisikan sebagai fasilitas darurat selama musim karhutla.
"Sarana tersebut diharapkan dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kebutuhan masyarakat setelah kondisi kembali normal," ujarnya.
