Ronan Giovinco (17), warga Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur (Bartim) meninggal dunia setelah sesak napas dan menjalani penanganan medis di IGD RSUD Tamiang Layang.
Ronan dibawa keluarganya ke rumah sakit pada Minggu (20/9/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Sebelumnya, kondisi kesehatan remaja tersebut dilaporkan terus menurun sejak sehari sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Timur dr. Jimmi W.S. Hutagalung mengatakan, Ronan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 03.55 WIB setelah mendapat penanganan medis. "(Ronan) meninggal karena gagal napas," kata Jimmi, Senin (21/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Jimmi, berdasarkan diagnosis dokter RSUD Tamiang Layang, Ronan mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau sindrom gangguan pernapasan akut.
"Sebelum mengalami kondisi kritis, Ronan sempat mengalami batuk dan pilek selama sekitar satu minggu. Keluhan tersebut kemudian disebut membaik dan tidak lagi dirasakan ketika kondisinya mulai menurun," katanya.
Pada Jumat (18/9/2026), Ronan mengalami demam dan merasa tidak enak badan. Meski demikian, saat itu ia masih dapat beraktivitas seperti biasa.
Kondisinya mulai memburuk pada Sabtu (19/9/2026). Ronan mengeluhkan tubuh yang semakin lemas, tetapi belum sempat dibawa untuk menjalani pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
"Memasuki Minggu dini hari, kondisi Ronan berubah drastis. Sekitar pukul 02.00 WIB, dia mengalami sesak napas sehingga keluarga segera membawanya ke IGD RSUD Tamiang Layang," katanya.
Jimmi menjelaskan ARDS merupakan kondisi gagal napas akut. Berdasarkan informasi yang diterima Dinkes, Ronan juga tidak memiliki riwayat asma maupun alergi.
"ARDS itu gagal napas akut. Pasien tidak ada riwayat alergi," ujarnya.
Di tengah kondisi Barito Timur yang turut terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinkes mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gangguan pernapasan. Jimmi mengatakan paparan kabut asap dapat memengaruhi sistem pernapasan, terutama pada orang yang sebelumnya telah mengalami keluhan pada saluran pernapasan.
"Pasien batuk terlebih dahulu. Dengan adanya situasi kabut asap sekarang, bisa memengaruhi pernapasan pasien," jelasnya.
Meski demikian, Dinkes Barito Timur tidak menyatakan kabut asap sebagai penyebab langsung kematian Ronan. Secara medis, penyebab kematian yang disampaikan adalah gagal napas dengan diagnosis ARDS.
Dinkes mengimbau masyarakat tidak mengabaikan keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, lemas berlebihan, atau kesulitan bernapas. Pemeriksaan medis disarankan segera dilakukan apabila gejala tersebut muncul atau memburuk.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara tidak sehat serta menggunakan pelindung pernapasan sesuai kebutuhan. "Kami juga turut berbelasungkawa atas meninggalnya saudara Ronan. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya," pungkasnya.
