Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin mengecek kesiapan operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Operasi tersebut melibatkan pasukan Jepang dengan dukungan helikopter CH-47 Chinook untuk pemadaman dari udara.
Sjafrie meninjau kesiapan operasi di atas kapal pendarat kelas Osumi milik Jepang, JS Kunisaki (LST-4003), yang sudah bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah sejak Selasa (15/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Sjafrie bertemu dengan Komandan Kegiatan Bantuan Bencana Pasukan Bela Diri Jepang Kolonel Shunji Nakahara. Pertemuan membahas kesiapan unsur yang akan terlibat dalam operasi penanggulangan karhutla, termasuk rencana water bombing menggunakan helikopter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Syahbandar Kodaeral XII Pontianak Kolonel Laut (P) Iwan Sutrisno membenarkan adanya pengecekan dari Menhan. Ia mengatakan, helikopter Chinook yang disiapkan untuk operasi pemadaman dari udara pada dasarnya telah siap. Namun, helikopter belum dapat langsung beroperasi karena terkendala jarak pandang akibat asap.
"Heli sebenarnya sudah siap, tinggal visibility saja. Kalau sudah memenuhi syarat, pasti akan melaksanakan kegiatan untuk operasi," ujar Iwan, Rabu (16/9/2026).
Iwan menyebut, Kubu Raya dan Ketapang menjadi wilayah prioritas operasi water bombing. Sebelum operasi, satu helikopter telah menjalani uji coba penerbangan dan kini berada di landing zone di kawasan Terminal Petikemas.
"Sudah ada uji coba terbang satu. Sekarang ada di landing zone yang ada di Terminal Petikemas," katanya.
Menurut Iwan, kunjungan Menhan juga memastikan kesiapan seluruh unsur pendukung sebelum operasi dijalankan.
"Kebetulan kalau pembahasannya lebih kepada kesiapan untuk melaksanakan kegiatan penanggulangan," jelasnya.
Jadwal Operasi Bisa Berubah
Iwan mengatakan, waktu pelaksanaan operasi masih menyesuaikan kondisi karhutla di lapangan. Data awal, operasi direncanakan berlangsung pada 12-19 September 2026. Namun, jadwal tersebut tidak bersifat mutlak karena pelaksanaan operasi bergantung pada dinamika kebakaran dan kondisi penerbangan.
"Rencana awal seperti demikian karena dinamikanya selalu berubah. Menyesuaikan dinamika yang ada," ungkapnya.
Sebanyak 338 personel disiapkan untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla tersebut. Sekitar 150 personel di antaranya merupakan ground crew yang bertugas mendukung operasi dari darat.
"Sisanya adalah kru kapal," kata Iwan.
Operasi nantinya mengandalkan helikopter dan metode water bombing untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang memenuhi persyaratan operasi. Iwan menegaskan armada udara pada dasarnya telah siap diterjunkan. Kendala utama saat ini adalah jarak pandang akibat asap.
"Kalau sudah memenuhi syarat, pasti akan melaksanakan kegiatan untuk operasi," pungkasnya.
