Dua pekan sudah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Hingga kini personel Balai TNTP masih berjibaku mengendalikan kobaran api yang telah menghanguskan sekitar 1.200 hektare lahan.
Kepala Balai TNTP Yohan Hendratmoko mengatakan, titik kebakaran berada di wilayah Desa Sungai Cabang dan Tanjung Pulau. Petugas bersama sejumlah pihak terus berupaya melakukan pemadaman sekaligus membuat penghalang agar api tidak meluas.
"Kawasan TNTP yang masuk dalam administrasi wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat yang terbakar saat ini seluas 1.200 hektare," kata Yohan, Rabu (9/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi medan disebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Api berada di kawasan bergambut dan rawa yang lokasinya cukup jauh serta sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sebanyak 114 personel Balai TNTP dikerahkan untuk penanganan. Mereka juga mendapat dukungan dari PT Kumai Sentosa serta Masyarakat Peduli Api. Namun, keterbatasan akses dan minimnya sumber air membuat pemadaman dari darat tidak mudah dilakukan. Balai TNTP kini mengharap bantuan helikopter water bombing dari BNPB segera diterjunkan.
"Lokasi yang terbakar berada di dalam sehingga kami kesulitan untuk menjangkau. Untuk itu kami sangat mengharapkan bantuan helikopter Water Bombing BNPB untuk pemadaman dari atas, karena lokasinya sangat jauh dan sumber air tidak ada," ujarnya.
Di tengah ancaman karhutla, aktivitas wisata di sejumlah kawasan TNTP masih berjalan. Pondok Tanggui yang menjadi salah satu pusat rehabilitasi orangutan, serta Camp Leakey yang dikenal sebagai kawasan rehabilitasi dan penelitian orangutan, dilaporkan masih dalam kondisi aman.
Yohan menyebut kunjungan wisatawan juga masih berlangsung, termasuk wisatawan mancanegara yang sebelumnya telah melakukan pemesanan perjalanan jauh hari.
"Untuk lokasi kunjungan wisatawan seperti di Pondok Tanggui dan Camp Leakey masih aman, dan wisatawan masih banyak berkunjung," katanya.
Sementara itu, Bupati Kobar, Nurhidayah memastikan penanganan karhutla akan difokuskan pada kawasan-kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, termasuk TNTP dan kawasan Hutan Danau Masorain.
Kedua lokasi tersebut dinilai penting karena tidak hanya menjadi habitat dan pusat rehabilitasi orangutan, tetapi juga kawasan pengembangan riset dan konservasi.
"Kedua kawasan tersebut selain untuk rehabilitasi orangutan juga sebagai tempat untuk pengembangan riset. Orangutan dan manusia keduanya sama-sama penting untuk diselamatkan dari karhutla ini," ujar Nurhidayah.
Ia mengakui keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi kendala dalam penanganan kebakaran. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya tim gabungan di lapangan.
Menurutnya, semangat gotong royong seluruh pihak menjadi modal penting untuk menghadapi situasi tersebut sembari menunggu dukungan udara dan datangnya hujan.
"Keterbatasan sarana prasarana bukan berarti tim tidak bisa berbuat. Dengan gotong royong seluruh komponen yang terlibat maka kesulitan dan kendala di lapangan akan dapat teratasi," tuturnya.
Dengan kondisi kebakaran yang terus menjadi perhatian, pemerintah daerah dan Balai TNTP kini berharap bantuan water bombing segera tiba untuk mempercepat pemadaman, terutama pada titik-titik api yang sulit ditembus melalui jalur darat.
