Buruh Sawit Terpapar Kabut Asap, FSBKS Kalbar Minta Perusahaan Lebih Peduli

Buruh Sawit Terpapar Kabut Asap, FSBKS Kalbar Minta Perusahaan Lebih Peduli

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 13:00 WIB
Pekerja sawit di Kalimantan Barat terpapar asap karhutla.
Pekerja sawit di Kalimantan Barat terpapar asap karhutla. Foto: Dok. FSBKS Kalbar
Pontianak -

Federasi Serikat Buruh Kebun Sawit Kalimantan Barat (FSBKS-KB) meminta perusahaan perkebunan sawit meningkatkan perlindungan kesehatan pekerja di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketua FSBKS Kalbar Yublina Yuliana Oematan mengatakan, buruh perkebunan sawit memiliki risiko paparan asap lebih tinggi karena sebagian besar aktivitas mereka dilakukan di ruang terbuka.

"Kondisi kabut asap, paparan asap dan partikulat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan, iritasi mata, sakit kepala, kelelahan dan gangguan kesehatan lainnya," kata Yublina kepada detikKalimantan, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, perusahaan sebaiknya tidak hanya mengejar target produksi ketika kualitas udara memburuk. Kondisi kesehatan dan keselamatan buruh harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan aktivitas kerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

FSBKS meminta perusahaan melakukan pemantauan kesehatan buruh secara berkala selama kondisi kabut asap. Pemeriksaan juga diminta mencakup keluarga buruh, anak-anak dan perempuan hamil.

Keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, pusing hingga kelelahan berlebihan diminta menjadi perhatian. Buruh yang mengalami gangguan kesehatan juga diharapkan segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis serta tidak dipaksakan bekerja dalam kondisi yang dapat memperburuk kesehatannya.

Minta Jam Kerja Buruh Disesuaikan

FSBKS juga meminta perusahaan menyesuaikan jam dan pola kerja ketika kondisi udara memburuk. Penyesuaian dapat dilakukan dengan mengurangi jam kerja, mengubah waktu kerja, menambah waktu istirahat, hingga mengurangi durasi pekerjaan di ruang terbuka. Jika kualitas udara sudah membahayakan, perusahaan diminta mempertimbangkan penghentian sementara pekerjaan di ruang terbuka.

"Keselamatan dan kesehatan buruh harus menjadi pertimbangan utama dan tidak semata-mata dikalahkan oleh target produksi," tegas Yublina.

Selain pengaturan kerja, perusahaan diminta menyediakan masker dan alat pelindung diri yang sesuai, dalam jumlah cukup serta menggantinya secara berkala. Buruh juga perlu mendapat edukasi mengenai penggunaan masker yang benar.

FSBKS meminta perusahaan memastikan tersedianya air minum dan air bersih, tempat istirahat yang terlindung dari paparan asap, fasilitas pertolongan pertama serta akses pemeriksaan dan pelayanan kesehatan. Perusahaan juga diminta menyediakan vitamin dan makanan sehat bagi buruh serta keluarganya sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatan selama kabut asap.

FSBKS selanjutnya meminta perusahaan memantau kualitas udara di wilayah kerja dan menyampaikan informasinya secara terbuka kepada buruh. Data tersebut dinilai penting sebagai dasar menentukan apakah pekerjaan di ruang terbuka dapat dilanjutkan, dibatasi atau dihentikan sementara.

Serikat buruh meminta dilibatkan dalam penyusunan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) selama kondisi kabut asap. Selain itu, perusahaan diminta tidak menggunakan kondisi karhutla sebagai alasan untuk mengurangi hak normatif buruh secara sepihak. Setiap perubahan pola atau sistem kerja harus dibahas secara transparan dan sesuai ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.

"Kami juga meminta perusahaan melaporkan kondisi buruh, tingkat paparan kabut asap, gangguan kesehatan pekerja serta kondisi lingkungan kerja secara real-time dan transparan kepada dinas terkait, serikat pekerja dan GAPKI," tegasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads