Kualitas udara Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali menjadi perhatian. Pada Minggu (30/8/2026) sore hingga Senin (31/8/2026) pagi, udaranya tercatat berada pada level yang mengkhawatirkan berdasarkan pemantauan indeks kualitas udara secara real-time.
Pada Minggu pukul 17.12 WIB, Air Quality Index (AQI) Palangka Raya mencapai angka 230. Angka tersebut menempatkan Palangka Raya di jajaran teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada saat pemantauan berlangsung.
"Dalam daftar tersebut, Kuching, Sarawak, Malaysia, tercatat berada di posisi pertama, sementara Palangka Raya berada di posisi kedua," ujar Prakirawan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra, Senin (31/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya |
Tingginya angka AQI tersebut menjadi gambaran serius mengenai kondisi udara di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Situasi ini juga menjadi perhatian karena masyarakat masih menjalankan aktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar.
"Kondisi kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap pencemaran udara," katanya.
Situasi ini sekaligus menambah urgensi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalteng. Asap dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu kenyamanan maupun aktivitas masyarakat.
"Dengan AQI yang sempat mencapai 230, masyarakat di Palangka Raya diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara," ujarnya.
Pemerintah dan pihak terkait juga dituntut terus memperkuat penanganan karhutla agar sumber pencemaran dapat segera dikendalikan dan kondisi udara di Palangka Raya kembali membaik.
