9.307 titik hospot terdeteksi di Kalimantan Selatan hingga Rabu (26/8). Titik hospot itu tersebar di berbagai wilayah di Kalsel dengan jumlah kejadian mencapai 1.859.
Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan bahwa jumlah hospot itu merupakan angka dari tanggal 14 Juli hingga 26 Agustus 2026 lalu. Untuk hospot terbaru, ada diangka 1.079 titik.
"Untuk total keseluruhan dari 16 Juli itu ada 9.307 hospot. Kalau yang terbaru ini ada 1.079 hospot se-Kalsel," kata Ronny, Kamis (27/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut data hotspot Kalsel hingga 27 Agustus 2026:
1. Kabupaten Tapin: 2.733
2. Kabulaten Hulu Sungai Selatan: 1.702
3. Kabupaten Banjar: 1.641
4. Kabupaten Tanah Laut: 1.003
5. Kabupaten Hulu Sungai Utara: 726
6. Kotabaru: 462
7. Balangan: 446
8. Kota Banjarbaru: 431
9. Kabupaten Tanah Bumbu: 381
10. Kabupaten Barito Kuala: 328
11. Kabupaten Hulu Sungai Tengah: 299
12. Tabalong: 193
13. Banjarmasin: 0
Ronny menyebut bahwa delapan Kabupaten/Kota di Kalsel telah menetapkan status siaga Karhutla. Ia pun mengoptimalkan penanganan Karhutla di daerah-daerah rawan terbakar.
Penguatan pengendalian karhutla dilakukan terutama terhadap wilayah yang memiliki tingkat kejadian cukup tinggi. Salah satunya yakni di Kabupaten Banjar dengan total kejadian 338.
"Disusul Kabupaten Tanah Laut 301 kejadian, dan Banjarbaru 360 kejadian," ujar Ronny.
Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan tercatat 246 kejadian dengan luas lahan terdampak 1.171,63 hektare. Kemudian Kabupaten Tapin 151 kejadian dengan luas 861,75 hektare, dan Kabupaten Barito Kuala 132 kejadian dengan luas 803,20 hektare.
Wilayah lainnya juga masih mencatat kejadian karhutla, yakni Hulu Sungai Utara sebanyak 93 kejadian dengan luas 507,78 hektare, Hulu Sungai Tengah 57 kejadian dengan luas 153,61 hektare, Tanah Bumbu 48 kejadian dengan luas 150,35 hektare, Tabalong 29 kejadian dengan luas 135,13 hektare, dan Kotabaru 42 kejadian dengan luas 40,42 hektare.
"Untuk Banjarmasin tercatat juga ada enam kejadian dengan total lahan terbakar 1,41 hektar," jelasnya.
BPBD Kalsel juga mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki kejadian dan luas lahan terdampak cukup tinggi. Upaya pencegahan melalui pengawasan lapangan, respons cepat terhadap laporan kebakaran, serta koordinasi lintas sektor terus diperlukan untuk menekan dampak karhutla.
"Pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Kami mengharapkan dukungan pemerintah kabupaten/kota, aparat, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pihak untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di lapangan," tutup Ronny.
