Asap Karhutla Melanda Kobar, 515 Kasus ISPA Tercatat dalam Sepekan

Asap Karhutla Melanda Kobar, 515 Kasus ISPA Tercatat dalam Sepekan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 27 Agu 2026 08:00 WIB
Kabut asap di Pangkalan Bun Rabu (26/8) pagi
Kabut asap di Pangkalan Bun Rabu (26/8) pagi/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Asap Karhutla yang kerap melanda mulai dibarengi naiknya gangguan pernapasan di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan mencatat ada 515 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam satu pekan.

Angka tersebut tercatat pada minggu ke-32 berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar. Lonjakan itu menjadi perhatian karena terjadi setelah tren peningkatan kasus yang berlangsung beberapa pekan sebelumnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan kasus ISPA perlu terus diawasi karena menunjukkan pola peningkatan sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tren kasus ISPA menunjukkan pola fluktuatif dengan peningkatan yang cukup nyata pada minggu ke-28 sampai minggu ke-32. Dinas Kesehatan mencatat sekitar 515 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hanya dalam satu pekan," kata Jhonferi, Rabu (26/8/2026).

Jika dilihat berdasarkan wilayah layanan kesehatan, Puskesmas Sungai Rangit mencatat jumlah laporan kasus tertinggi, yakni 1.933 kasus atau 16,43 persen. Disusul Puskesmas Madurejo dengan 1.169 kasus atau 9,94 persen dan Puskesmas Kumai sebanyak 1.152 kasus atau 9,79 persen.

"Sementara itu, Puskesmas Karang Mulya mencatat 914 kasus dan Puskesmas Mendawai sebanyak 905 kasus," katanya.

Dinkes Kobar menilai angka tersebut perlu dibaca berdasarkan wilayah maupun kelompok umur. Analisis tersebut penting untuk mengetahui pola persebaran kasus sekaligus mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling terdampak.

Peningkatan kasus juga menjadi perhatian karena Kobar sedang menghadapi ancaman karhutla. Asap dan partikel sisa kebakaran dapat memperburuk kondisi udara dan berpotensi meningkatkan keluhan pada masyarakat, terutama mereka yang tinggal atau beraktivitas di sekitar wilayah terdampak.

"Perlu diperhatikan hubungan peningkatan kasus dengan kualitas udara dan kejadian karhutla," demikian rekomendasi Dinkes Kobar dalam pemantauan tersebut.

Untuk mengantisipasi lonjakan berikutnya, seluruh puskesmas diminta memperketat pemantauan kasus ISPA setiap pekan. Apabila grafik kasus terus menanjak, Dinkes mendorong dilakukan verifikasi lapangan dan analisis epidemiologi untuk memastikan penyebab serta mendeteksi potensi peningkatan yang tidak normal.

"Kesiapan fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian. Dinkes meminta pelayanan bagi masyarakat terdampak asap diperkuat, termasuk memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai dan oksigen. Pos kesehatan juga perlu disiapkan apabila kondisi kabut asap semakin memburuk," ujarnya.

Perlindungan khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit pernapasan atau penyakit kronis, serta petugas yang harus bekerja dalam kondisi terpapar asap.

Masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah ketika asap mulai pekat, menggunakan masker yang sesuai dan menjaga agar asap tidak masuk ke dalam rumah dengan menutup pintu serta jendela.

"Warga yang mengalami sesak napas, napas cepat, demam tinggi atau kondisi kesehatan yang memburuk diminta segera minta pertolongan medis," pungkasnya.



(sun/aau)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads