Sejumlah Embung Mengering, Dishut Kalteng Segera Inventarisasi 3.000 Sumur Bor

Kalimantan Tengah

Sejumlah Embung Mengering, Dishut Kalteng Segera Inventarisasi 3.000 Sumur Bor

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 26 Agu 2026 09:00 WIB
Sumur Bor dan Sanitasi Penyintas Bencana Masih Perlu Diperbanyak
Ilustrasi sumur bor. Foto: Dok. Kemendagri
Palangka Raya -

Pemerintah daerah di Kalimantan Tengah belum memiliki kepastian mengenai kondisi ribuan sumur bor yang telah dibangun di berbagai wilayah. Padahal keberadaan sumur bor ini penting untuk upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining memperkirakan terdapat sekitar 3.000 hingga 4.000 sumur bor yang dibangun oleh berbagai instansi. Namun, hingga kini belum dilakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan berapa titik yang masih berfungsi dan berapa yang mengalami kerusakan.

"Kalau berkisar 3.000-4.000 ada sumur bor itu. Tapi sampai dengan saat ini kita belum melakukan pengecekan mana yang operasional, mana yang belum," kata Agustan, Rabu (26/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah embung yang selama ini menjadi sumber air bagi petugas pemadam dilaporkan mulai mengering. Akibatnya, pencarian sumber air alternatif menjadi kebutuhan mendesak di lokasi rawan karhutla.

Dinas Kehutanan Kalteng pun mengambil langkah cepat dengan membangun sumur bor baru secara swadaya. Sedikitnya 10 titik telah dibuat, di antaranya di kawasan Tumbang Nusa, Kamilo dan Kamilo Baru, serta Sampit. Menurut Agustan, seluruh sumur bor baru tersebut sudah dapat digunakan untuk membantu kebutuhan air dalam penanganan karhutla.

Pembangunan satu titik sumur bor tersebut relatif murah. Anggarannya diperkirakan sekitar Rp2,5 juta dengan kedalaman pengeboran antara 25 hingga 30 meter.

"Namun, pemerintah kini dihadapkan pada pekerjaan menghidupkan kembali sumber air yang sudah tersedia," ujarnya.

Sebagian sumur bor sebelumnya dibangun melalui program Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah lembaga tersebut tidak lagi beroperasi, data mengenai lokasi dan kondisi sumur bor belum sepenuhnya diterima Dinas Kehutanan Kalteng.

Dinas Kehutanan kini berupaya mengumpulkan kembali data tersebut. Inventarisasi diperlukan untuk mengetahui lokasi sumur, kondisi peralatan, sekaligus menentukan titik mana yang masih dapat diperbaiki atau bahkan perlu dilakukan pengeboran ulang.

"Jadi kita meminta data-data mereka, nanti kita akan update, di mana yang bisa kita perbaiki atau kita gali ulang," jelas Agustan.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads