Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Meski api di lokasi sudah padam, asap masih terlihat mengepul dari lahan gambut.
Raja Juli mengatakan jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar saat ini menunjukkan penurunan. Berdasarkan data yang diterimanya, tersisa 28 titik panas di Kalbar.
"Di Kalimantan Barat ini hotspot-nya sekali lagi sudah turun, tinggal 28. Tapi seperti teman-teman media lihat di sini, tidak ada lagi apinya, tapi asapnya masih tetap ada," kata Raja Juli saat meninjau lokasi, Senin (24/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena karakteristik lahan gambut. Kebakaran di lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan sehingga meski api di permukaan telah padam, asap masih terus muncul.
"Karena ini memang lahan gambut, pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral," ujarnya.
Raja Juli mengatakan penurunan jumlah hotspot tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah. Sebab, kondisi karhutla sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Namun, Raja Juli kembali mengingatkan bahwa tidak adanya hotspot bukan berarti wilayah tersebut sepenuhnya terbebas dari ancaman asap.
"Data per malam tadi, pulul 23.59 WIB, titik api di Kalimantan sudah bergeser. Turunnya angka titik panas atau hotspot ini tidak membuat kita abai, tidak waspada. Karena datanya sekali lagi sangat dinamis," tegasnya.
Ratusan Kali Water Bombing
Raja Juli juga menyebut operasi pemadaman dari udara turut membantu menekan jumlah titik panas di Kalbar. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sekitar 200 kali water bombing telah dilakukan untuk membantu memadamkan titik-titik karhutla.
"Yang kemarin dilakukan sekitar 200 water bombing, sehingga sekali lagi angkanya turun," ujarnya.
Meski demikian, ia meminta seluruh unsur yang terlibat tetap bekerja maksimal. Terlebih, kondisi kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dan ancaman El Nino masih menjadi perhatian.
"El Nino ini masih panjang sekali. September bahkan akan menjadi puncaknya," katanya.
Raja Juli menegaskan pemerintah tidak boleh terlena dengan penurunan hotspot. Kesiapsiagaan tetap harus dipertahankan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, terutama di kawasan gambut yang memiliki potensi menghasilkan asap meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
