Meluasnya temuan titik api (hotspot) di wilayah Tarakan Timur memicu tren penurunan kualitas udara. Merespons kondisi yang kian mengkhawatirkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan menerjunkan tim untuk melakukan pengambilan sampling udara ambien di kawasan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH, Chaizir Zain, mengungkapkan bahwa pengujian udara di wilayah timur Tarakan ini merupakan langkah krusial. Pasalnya, kemunculan titik api di wilayah tersebut sudah menyebabkan perubahan rona lingkungan yang bisa dirasakan secara fisik oleh masyarakat.
"Kenapa kita lakukan di Amal? Karena banyak kejadian titik-titik api di daerah Tarakan Timur, Pantai Amal, dan juga di Juwata," kata Chaizir kepada detikKalimantan, Sabtu (22/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui di halaman kantor Kelurahan Pantai Amal, Chaizir mengatakan indikasi penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran sudah cukup terasa di Tarakan, terutama Tarakan Timur.
"Sebenarnya kalau dibutuhkan pada saat pengujian, itu bahasanya memang kita secara fisik merasakan ada perubahan kualitas udara. Kemungkinan besar ada penurunan, jadi kita harus mengukur," imbuhnya.
Pengujian dengan alat portabel di Pantai Amal ini harus dilakukan secara manual karena kawasan yang dikepung titik api tersebut berada di luar jangkauan Stasiun Pengukuran Kualitas Udara Ambien (SPKUA) utama milik DLH.
"SPKUA itu radiusnya 2,5 kilometer. Kalau daerah Amal ini sudah lebih jauh, jadi di luar jangkauan SPKUA," jelas Chaizir.
Alat yang dipasang di lokasi difokuskan untuk mengukur tiga parameter utama paparan debu dan asap, yakni Particulate Matter (PM) 10, PM 2,5, dan Total Suspended Particulate (TSP). Sementara parameter lain seperti Karbon Monoksida (CO) dan Ozon akan tetap ditarik datanya dari SPKUA pusat.
"Dalam prosesnya, alat penguji kualitas udara ini membutuhkan pengawasan ketat. Tiga orang petugas DLH disiagakan secara bergantian untuk memastikan mesin menyala selama 24 jam penuh tanpa henti," ujarnya.
Chaizir menjelaskan pengujian hanya akan dijeda apabila terjadi hujan. Lebih lanjut, Chaizir mewanti-wanti bahwa ancaman kualitas udara buruk akibat titik api di Tarakan Timur ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Kualitas udara yang ada di Tarakan Timur bisa mempengaruhi yang ada di barat. Bisa, karena angin juga kan mempengaruhi persebaran asap. Bahkan dari pulau Kalimantan besar juga bisa mempengaruhi di Tarakan," imbaunya.
