Kobar Hadapi Kemarau 60 Hari Tanpa Hujan, Krisis Air Mengintai

Kalimantan Tengah

Kobar Hadapi Kemarau 60 Hari Tanpa Hujan, Krisis Air Mengintai

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Sabtu, 22 Agu 2026 22:30 WIB
Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir
Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir. Foto: Istimewa
Kotawaringin Barat -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data sebagian besar wilayah Kobar tercatat mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama 31 hingga 60 hari. Periode kering yang cukup panjang dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan air bersih.

Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, mengatakan hasil analisis indeks kekeringan menunjukkan sebagian besar wilayah Kobar telah masuk kategori kekeringan. Kondisi paling menonjol terlihat di wilayah Kobar bagian utara.

"Sebagian besar wilayah Kotawaringin Barat dalam kondisi kekeringan, ditandai dengan warna merah gelap, terutama di wilayah Kotawaringin Barat bagian utara," kata Ni Kadek, Sabtu (22/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak kemarau mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah sumber air yang sebelumnya menjadi andalan warga mengalami penurunan, sehingga kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari mulai sulit dipenuhi.

Keluhan tersebut salah satunya datang dari warga Kecamatan Arut Utara, Mahmud. Ia mengatakan kondisi sumber air mulai menurun setelah kemarau berlangsung cukup lama.

"Sudah mulai kesulitan air bersih. Air mulai susah didapat untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar. Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengatakan pihaknya mulai melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terdampak.

"Memang saat ini belum ada laporan resmi, tetapi berdasarkan keluhan masyarakat, kita harus mengantisipasi daerah mana saja yang terdampak," kata Samuel, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, pemetaan harus dilakukan sejak dini. Dengan mengetahui lokasi yang mulai mengalami kekurangan air, pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan dan memastikan distribusi bantuan air bersih nantinya tidak salah sasaran.

"Kita perlu tahu daerah mana saja yang terdampak agar nantinya penyaluran air bersih bisa tepat sasaran," ujarnya.

DPRD Imbau Pemkab Lihat Kondisi Warga

Desakan penanganan juga datang dari DPRD Kobar. Ketua Komisi C DPRD Kobar, Arif Asrofi, meminta pemerintah turun langsung mengecek kondisi masyarakat di wilayah yang mulai mengalami kesulitan air.

"Kita meminta secepatnya dilakukan peninjauan. Saya juga mendengar keluhan masyarakat terkait kekurangan air bersih ini," kata Arif.

Ia menyebut informasi mengenai warga yang mulai terdampak telah diterimanya dari sejumlah wilayah, termasuk Bungur dan Kelurahan Baru.

"Di wilayah Bungur, Kelurahan Baru, sudah mulai ada yang terdampak. Ini harus segera ditindaklanjuti agar masyarakat tidak semakin kesulitan mendapatkan air bersih," imbuhnya.

Pemerintah daerah kini dituntut bergerak sebelum persoalan tersebut meluas. Di sisi lain, kemarau panjang juga menjadi alarm bagi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads