Puluhan anggota Satuan Tugas (Satgas) Karhutla menjalani pemeriksaan kesehatan setelah berjibaku dengan kobaran api dalam intensitas tinggi. Sejumlah personel diketahui mengalami batuk ringan setelah berulang kali terpapar asap di lokasi kebakaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan pemeriksaan dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan personel yang setiap hari menghadapi lingkungan kerja dengan risiko cukup tinggi.
"Ini merupakan bentuk perhatian Pemkot Palangka Raya terhadap kondisi kesehatan anggota Satgas Karhutla. Mereka menghadapi kondisi lingkungan yang cukup berat, mulai dari paparan asap, debu, panas, hingga aktivitas fisik yang menguras tenaga selama proses pemadaman. Tes kesehatan dilakukan secara bertahan dan bergantian sejak Kamis hingga beberapa hari ke depan," ujar Riduan, Jumat (21/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah dan kondisi kesehatan secara umum. Para personel juga mendapatkan vitamin serta obat-obatan sesuai keluhan dan hasil pemeriksaan.
Menurut Riduan, paparan asap yang terjadi berulang kali perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi petugas yang terlibat langsung dalam pemadaman karhutla setiap hari.
"Kami menemukan beberapa anggota mengalami batuk flu ringan. Karena itu, kami memberikan obat dan vitamin serta mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kondisi tubuh selama bertugas," katanya.
Ia menegaskan pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan secara berkala selama intensitas karhutla masih tinggi. Personel juga diminta disiplin menggunakan perlengkapan pelindung untuk mengurangi paparan asap dan debu saat berada di lokasi kebakaran.
"Petugas diingatkan tidak mengabaikan gejala kesehatan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, pusing maupun kelelahan berlebihan. Kondisi tubuh yang menurun dinilai dapat memengaruhi keselamatan sekaligus kemampuan personel dalam menjalankan tugas," kata dia.
Diketahui, aktivitas karhutla di Palangka Raya mengalami peningkatan selama musim kemarau. Berdasarkan data BPBD Kota Palangka Raya, sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026 tercatat 298 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 261,41 hektare.
Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, disusul Kecamatan Sebangau. Rinciannya, sebanyak 188 kejadian tercatat di Jekan Raya, 68 kejadian di Sebangau, 25 kejadian di Pahandut dan delapan kejadian di Bukit Batu. Sementara Kecamatan Rakumpit tidak mencatat kejadian karhutla dalam periode tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengatakan tingginya angka kejadian tersebut membuat personel harus bekerja ekstra di lapangan.
"Kondisi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api dan menyelamatkan lahan, tetapi juga memastikan petugas yang berada di garis depan tetap dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan tugas secara aman," katanya.
