Aksi damai yang awalnya digelar di depan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan memanas usai tuntutan yang dibawa tak disetujui oleh perwakilan DPRD yang berhadir.
Akibatnya, ratusan mahasiswa memaksa masuk ke dalam gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan dan berbenturan dengan aparat kepolisian yang bertugas. Ratusan mahasiswa itu memaksa untuk masuk guna kembali menemui pimpinan DPRD Kalsel.
Pantauan detikKalimantan di lapangan, salah satu pintu pagar di DPRD Provinsi Kalsel pun lepas usai terjadi aksi tarik menarik antara massa aksi dengan aparat kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bentar bentar, jangan diayun! Jangan diayun!" imbau petugas di lokasi.
Diketahui, beberapa tuntutan dibawa mahasiswa antara lain mengenai antrean mengular di SPBU, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalsel, dan pemadaman bergilir.
Mahasiswa tetap memaksa masuk untuk menemui pimpinan DPRD Provinsi Kalsel guna beraudiensi kembali dan menemui titik tengah dari tuntutan yang dibawa oleh massa aksi.
Aksi audiensi di depan gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan itu memanas lantaran salah satu personel Polri diduga sempat memukul massa aksi yang merupakan seorang perempuan. Kini, anggota polisi berusaha melakukan audiensi bersama mahasiswa aksi untuk melakukan aksi damai kembali.
"Kami minta anggota Polri yang bernama Kevin itu disanksi, temui kami. Apa maksudnya memukul anggota aksi perempuan," ujar massa aksi.
