Asap Karhutla Mulai Berdampak, 2.052 Warga Kalteng Terserang ISPA

Kalimantan Tengah

Asap Karhutla Mulai Berdampak, 2.052 Warga Kalteng Terserang ISPA

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Sabtu, 15 Agu 2026 09:29 WIB
Petugas dari satgas gabungan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (27/9/2023). Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah, karhutla yang melanda Kabupaten/Kota di Kalteng dari Januari sampai (18/9/2023) terdapat 2.541 kejadian karhutla, 17.291 hotspot dan luas yang ditangani sekitar 7.534, 67 hektare. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.
Ilustrasi karhutla di Kalteng. Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Palangka Raya -

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mulai terasa pada sektor kesehatan. Dalam sepekan ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di 14 kabupaten/kota.

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 2.052 kasus ISPA selama periode 7-14 Agustus 2026. Bahkan, hanya dalam satu hari, tepatnya 11 Agustus, terdapat tambahan 600 kasus dengan sembilan pasien harus menjalani perawatan inap.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalteng, dr. Riza Syahputra, mengatakan peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian serius di tengah kondisi udara yang mulai terdampak asap karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama periode 7 sampai 11 Agustus 2026 tercatat 2.052 kasus ISPA di 14 kabupaten dan kota. Pada 11 Agustus terdapat 600 kasus baru, dengan sembilan pasien dirawat inap," ujar Riza, Sabtu (15/8/2026).

Pada 11 Agustus, Palangka Raya menjadi daerah dengan kasus ISPA harian tertinggi, yakni 115 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kotawaringin Barat dengan 111 kasus.

"Secara keseluruhan, jumlah kasus tersebut meningkat sekitar 39,2 persen dibandingkan kondisi pada 7 Agustus," katanya.

Kenaikan kasus ini terjadi ketika aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalteng. Data BMKG hingga 14 Agustus mencatat terdapat 645 titik panas atau hotspot di provinsi tersebut.

"Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, mencapai 189 titik, disusul Kapuas dengan 114 titik," ujarnya.

Asap karhutla juga mulai bergerak ke sejumlah wilayah. Pergerakan asap terpantau menuju barat laut, sementara kondisi berkabut asap mulai dilaporkan terjadi di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 5-7 kilometer.

Kualitas udara di sejumlah daerah pun masuk kategori yang perlu diwaspadai. Katingan dan Barito Selatan tercatat berada pada kategori Tidak Sehat. Enam wilayah lainnya berada dalam kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif.

"Di tengah kondisi tersebut, Kotawaringin Barat masih mencatat kualitas udara dalam kategori Baik dengan nilai ISPU 21," ujarnya.

Dinkes Kalteng bersama jajaran kesehatan di kabupaten dan kota kini memperkuat langkah antisipasi. Pemantauan kasus, pelayanan kesehatan, edukasi masyarakat, pembagian masker, pemantauan kondisi petugas karhutla hingga penyaluran oxygen portable dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.

"Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan masker dan obat-obatan, gangguan jaringan komunikasi serta listrik yang berdampak terhadap pelaporan, hingga proses validasi data menjadi tantangan di lapangan," katanya.

Riza juga mengingatkan agar peningkatan angka ISPA tidak serta-merta seluruhnya dikaitkan dengan asap karhutla. Menurutnya, ISPA dapat dipicu berbagai faktor sehingga data harus dianalisis secara menyeluruh.

"Kami terus melakukan pemantauan dan validasi data. ISPA juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, sehingga data harus dilihat secara komprehensif," katanya.

Masyarakat pun diminta tidak mengabaikan kondisi udara. Ketika asap semakin pekat, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan masker digunakan saat berada di luar rumah.

"Kelompok rentan juga diminta mendapat perhatian lebih. Apabila muncul keluhan gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan," kata dia.

Di sisi lain, Dinkes menegaskan bahwa perlindungan kesehatan tidak bisa dipisahkan dari upaya menghentikan sumber asap. Masyarakat kembali diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan.

Sementara itu, tim gabungan pemerintah, aparat, relawan dan petugas terkait masih melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan hingga pendinginan di sejumlah lokasi karhutla. Penanganan dari udara juga diperkuat melalui operasi water bombing dan pemantauan hotspot.

Dengan kondisi cuaca yang masih relatif kering serta potensi hujan yang rendah hingga sedang pada periode 11-18 Agustus 2026, kewaspadaan masyarakat dinilai perlu terus ditingkatkan.

Karhutla kini bukan hanya persoalan lahan terbakar. Asap yang menyebar mulai menjadi ancaman kesehatan, sehingga pengendalian kebakaran dan perlindungan masyarakat harus berjalan bersamaan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Karhutla Meluas, Kasus ISPA di Palangka Raya Sentuh Rekor Tertinggi di Kalteng"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads