Seorang alumni S2 Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengungkap dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan kampusnya. Kasus ini mencuat dan viral setelah sebuah akun Instagram mengunggah keluhan mahasiswa terkait sejumlah biaya tak resmi, salah satunya biaya study tour ke luar negeri.
Mahasiswa berinisial R itu merupakan salah seorang alumni Program Magister Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBT, secara blak-blakan membongkar rincian pungutan yang membebani mahasiswa tersebut. Menurutnya, praktik ini telah berlangsung setidaknya selama tiga angkatan di program S2.
"Kegiatan (studi tur) ini tidak ada di dalam rencana pembelajaran atau kurikulum, tapi ditawarkan menjelang akhir perkuliahan. Sebenarnya itu refreshing yang dibungkus dengan kegiatan studi tur," ungkap R kepada detikKalimantan, Kamis (13/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia membeberkan bahwa angkatan pertama diberangkatkan ke Taiwan, sedangkan angkatan kedua dan ketiga ke Malaysia. Praktik yang dinilai memberatkan adalah adanya kewajiban membayar sejumlah uang tunai, meskipun mahasiswa tersebut memilih untuk tidak mengikuti studi tur.
"Bagi mahasiswa yang tidak mau ikut kegiatan tidak apa-apa, tapi diwajibkan untuk membayar setengah biaya yang ditagihkan. Mereka membayar rata-rata Rp 3 juta untuk angkatan ini," bebernya.
R menyebut transaksi dilakukan murni secara tunai, dikumpulkan melalui bendahara kelas, dan tidak dimasukkan ke dalam komponen biaya pendidikan resmi kampus. Selain itu, ada dugaan pungli tidak berhenti pada kegiatan study tour. Sejumlah biaya di luar komponen pendidikan resmi yang ditarik secara tunai.
"Padahal, jika dikalkulasikan dari satu kelas kerja, semisalnya berisi sekitar 100 mahasiswa, potensi dana yang terkumpul sangat besar," terangnya.
"Biaya di luar komponen yang ditarik secara tunai seperti uang yudisium & sumbangan buku. Artinya dipungut biaya padahal tidak ada dalam aturan resmi. Selain itu jual beli kelulusan TOEFL. Jadi Mahasiswa S2 diwajibkan membayar Rp 1 juta untuk tes TOEFL tanpa kuitansi," lanjutnya.
R mengklaim tes ini hanya formalitas karena mahasiswa dipastikan lulus. Sementara untuk mahasiswa S1, ada informasi bahwa mereka kerap sengaja tidak diluluskan hingga harus mengulang tes sampai tiga kali. R menyebut mahasiswa bersedia membayar karena khawatir proses kelulusan akan dipersulit.
"Terjemahan abstrak bahasa Inggris wajib dilegalisasi oleh Lembaga Bahasa UBT dengan biaya tunai sebesar Rp 100 ribu per mahasiswa. Bayangkan kalau satu kelas ada 40 orang, sudah Rp 4 juta. Kalau setahun ada ratusan mahasiswa yang lulus, kalikan saja Rp 100 ribu. Berapa penerimaannya? Dan itu semua tunai, tidak ada dasar hukumnya," tegas R.
"Kalau tidak bayar TOEFL ya berarti tidak lulus, kalau tidak lulus tidak bisa ikut ujian. Khawatirnya mahasiswa itu dipersulit, bahkan mungkin sampai ujian bisa tidak diluluskan. Jadi ketakutan itu terpaksa bayar," sambungnya.
Terpisah, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Borneo Tarakan (UBT), Mohamad Nur Utomo, membenarkan adanya kegiatan tur akademik ke Malaysia tersebut. Namun, ia secara tegas membantah tuduhan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk pungutan liar maupun tindakan pemaksaan terhadap mahasiswa.
"Kegiatan tur akademik ini memang ada dan sifatnya rutin untuk pengayaan kompetensi mahasiswa S2 Magister Ilmu Manajemen. Seperti seminar internasional, penandatanganan MoU penelitian, hingga kunjungan kampus di Malaysia. Tapi ini bukan kegiatan wajib, melainkan hasil musyawarah dan kesepakatan antar mahasiswa sendiri," ujar Mohamad Nur Utomo saat ditemui detikKalimantan di ruangannya, Kamis (13/8/2026).
Simak Video "Video: Momen Pelaku Pungli di Lampung Kocar-kacir Dikejar Polisi"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
