Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan fenomena El Nino berpotensi memperparah penyebaran api karhutla.
Forecaster On Duty Stasiun Meteorologi Iskandar Kelas III Kotawaringin Barat, Ayu Istiqomah menyebut BMKG telah mengantisipasi perubahan kondisi cuaca dan iklim sejak Maret 2026. El nino intensitas moderat hingga kuat menjadi salah satu perhatian utama di sepanjang 2026.
"Salah satu perhatian utama adalah potensi fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat sepanjang 2026," ata Ayu, Rabu (12/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Informasi cuaca dan iklim terus kami pantau dan diperbarui untuk mendukung penanganan karhutla," imbuhnya.
Menurutnya, kondisi karhutla tidak cukup hanya dilihat dari ada atau tidaknya titik api. BMKG setiap hari menyediakan layanan informasi khusus yang menjadi acuan untuk membaca perkembangan potensi kebakaran.
"Salah satu indikator yang dipantau adalah hotspot dari satelit Terra dan Aqua yang diakumulasi dalam 24 jam terakhir. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki indikasi aktivitas kebakaran," kata dia.
Selain titik panas, BMKG juga memantau citra sebaran api dan asap. Pasalnya, dampak karhutla tidak berhenti ketika api membakar lahan, tetapi juga dapat meluas melalui pergerakan asap dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi lahan pun menjadi perhatian. BMKG memetakan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah untuk dua hari ke depan. Ketika lahan berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas jika tidak segera ditangani.
"Prediksi curah hujan harian hingga hari berikutnya juga menjadi indikator penting. Minimnya hujan membuat vegetasi dan permukaan lahan lebih kering sehingga potensi api untuk kembali muncul maupun meluas menjadi lebih besar," ungkapnya.
Tak kalah penting, kualitas udara ikut menjadi alarm. BMKG memantau konsentrasi PM2.5, yakni partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter hingga 2,5 mikrometer yang dapat meningkat ketika suatu wilayah diselimuti asap karhutla.
"Di tengah kondisi tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya yang dapat mendukung penanganan karhutla di Kalteng. Pelaksanaan OMC membutuhkan analisis meteorologi untuk menentukan waktu dan wilayah yang memiliki peluang paling tepat untuk dilakukan intervensi," pungkasnya.
Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya bersama Meteorologi Publik memberikan dukungan data dan analisis kondisi atmosfer. Sementara rekomendasi operasional OMC dilakukan oleh bidang terkait, termasuk penentuan waktu dan sasaran berdasarkan kondisi meteorologi.
