Karhutla Landa Berau, Kasus Terbanyak di Kecamatan Pulau Derawan

Karhutla Landa Berau, Kasus Terbanyak di Kecamatan Pulau Derawan

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 12 Agu 2026 08:01 WIB
Karhutla di Berau
Karhutla di Berau/Foto: Istimewa
Berau -

Karhutla juga melanda Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). BPBD Berau mencatat 558 hotspot yang terdeteksi sejak awal Agustus 2026, dengan 30 titik di antaranya terdata sebagai titik api yang menghanguskan puluhan hektare lahan.

Kepala BPBD Berau, Masyahadi Musdi mengatakan puluhan titik api tersebut tersebar di 10 kecamatan. Total luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 30 hingga 40 hektare.

"Sejak awal Agustus sampai sekarang, tercatat ada 558 hotspot. Namun yang menjadi titik api dan kita data ada sekitar 30 lokasi di 10 kecamatan. Luasannya berkisar antara 30 sampai 40 hektare," ujar Masyahadi kepada detikKalimantan, Selasa (11/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyahadi mengungkapkan wilayah dengan sebaran titik api terbanyak berada di Kecamatan Pulau Derawan. Selain itu, karhutla juga terdata di sejumlah wilayah lain seperti Kecamatan Segah, Sambaliung, Teluk Bayur, Biduk-Biduk, hingga Talisayan.

"Yang tertinggi itu Kecamatan Pulau Derawan. Kemudian Kecamatan Segah, Sambaliung, Teluk Bayur, Biduk-Biduk, Talisayan," katanya.

Ia mengungkapkan mayoritas area yang terbakar bukan merupakan hutan lebat, melainkan lahan-lahan terbuka. Kondisi cuaca ekstrem yang membuat permukaan mengering ditambah tiupan angin kencang memicu api makin cepat meluas.

"Sebagian besar malah lahan terbuka. Yang memang karena kondisi cuaca yang demikian ekstrem sehingga kondisi permukaan panas semua, rumput-rumput pun jadi berwarna kering semua jadi mudah sekali terpicu," beber Masyahadi.

Ia menyebut pemicu kebakaran tak hanya dari cuaca panas semata. Namun juga akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, membakar sampah yang tak dipadamkan sempurna, hingga kelalaian buang puntung rokok.

"Pertama karena kondisi panas, kemudian pasti lah ada orang buka lahan dan faktor tidak sengaja seperti puntung rokok. Bahan bakarnya kering, anginnya juga kuat, sehingga sebab yang kecil saja bisa menjadi akibat yang besar," jelanya.

Meski begitu, BPBD Berau belum mencatat seluruh luas area yang terbakar. Sebagian lokasi hingga kini belum bisa terdata lantaran tidak memiliki akses jalan bagi petugas menuju ke titik api.

"Ada beberapa lokasi yang memang tidak kita data terus luasannya baru kita perkirakan aja, karena memang lokasinya tidak terjangkau, tidak ada akses menuju ke sana sehingga tidak ada petugas yang bisa memadamkan," ungkapnya.

Dalam upaya pemadaman, BPBD Berau mengerahkan personel siaga dari markas Tanjung Redeb. Kendati personel BPBD terbatas, yakni sekitar 10 orang termasuk P3K paruh waktu, penanganan di lapangan menggantungkan kekompakan tim gabungan.

"BPBD tidak sendiri, ada tim gabungan. Ada BPBD, Damkar, Manggala Agni, KPH, TNI, Polri, dan ada relawan-relawan pemadaman. Kita perlu tim terpadu itu," terangnya.

Sementara itu, terkait adanya informasi mengenai petugas yang sempat tumbang atau kelelahan saat proses pemadaman di lapangan, Masyahadi meluruskan bahwa personel tersebut merupakan anggota dari Dinas Damkar. Namun sesuai instruksi Bupati, BPBD tetap ditugaskan memperkuat penanganan di kecamatan-kecamatan jauh yang belum memiliki unit Damkar.

"Anggota yang tumbang itu anggota Damkar. Sejak Damkar berpisah dengan BPBD, personel di pos-pos penjagaan itu personelnya Damkar semua. Tapi kalau yang terjadi di kecamatan-kecamatan jauh, tugas BPBD diperbantukan ke dinas Damkar karena Damkar tidak mempunyai unit di lokasi jauh tersebut," terangnya.

Hingga saat ini, intensitas karhutla di Berau mulai melandai dibanding tiga hari sebelumnya. Salah satu titik api terakhir yang sempat muncul di wilayah Biatan kini dipastikan sudah dipadamkan.

"Hari ini satu kejadiannya di Biatan, cuma itu sudah padam. Ini agak kurang kejadiannya daripada tiga hari sebelumnya," pungkas Masyahadi.



(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads