Puluhan Siswa di Bontang Sakit Usai Santap MBG, 2 Kepala SPPG Dicopot

Puluhan Siswa di Bontang Sakit Usai Santap MBG, 2 Kepala SPPG Dicopot

Riani Rahayu - detikKalimantan
Selasa, 11 Agu 2026 21:40 WIB
Beberapa siswa yang terbaring di Rumah Sakit Badak LNG usai santap MBG
Beberapa siswa yang terbaring di Rumah Sakit Badak LNG usai santap MBG/Foto: Istimewa
Bontang -

Dua Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), dicopot usai terjadi gangguan kesehatan pada penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sisi lain, investigasi Dinkes Bontang menemukan bakteri patogen pada sampel pangan.

Dua SPPG yang dikenai sanksi yakni SPPG Bontang Barat dan SPPG Bontang Utara 2. Keduanya menyuplai MBG ke SMP Yayasan Vidya Dahana Patra (YPVDP) atau Vidatra dan SDN 012 Bontang Selatan.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Balikpapan, Paska Pakpahan mengatakan pencopotan dua kepala SPPG tersebut merupakan arahan langsung dari pimpinan pusat. Saat ini proses penggantian kepala kedua SPPG masih dilakukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aturannya dari pimpinan pusat tegas. Kalau sudah kejadian fatal, Kepala SPPG-nya otomatis dicopot. Untuk SPPG Bontang Barat dan Bontang Utara 2 ini sedang kita proses penggantiannya," ujar Paska, Selasa (11/8/2026).

Selain pencopotan kepala SPPG, operasional dua dapur tersebut juga dihentikan sementara. Lama penghentian nantinya ditentukan berdasarkan hasil evaluasi dari pimpinan pusat.

"Untuk sementara, maka dua SPPG satunya akan stop operasional. Nanti tergantung dari hasil dari pusat. Nanti surat stop operasional sementara akan diterbitkan, ada 10, 20, 30, tergantung hasil pertimbangan dari pimpinan," jelasnya.

KPPG Balikpapan juga mengaudit 26 Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan dalam penyediaan MBG. Audit dilakukan mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan makanan hingga proses distribusi ke sekolah.

"Saya yakin teman-teman itu sudah menjalankan mulai dari proses pengolahan, distribusi sampai terjadinya driver-nya juga, mereka saya yakin sudah pasang. Tapi di lapangan bisa saja mungkin berbeda. Nanti dari hasil laporan bisa kita lihat bagaimana yang ada kekurangan," katanya.

Paska juga meminta setiap pengelola SPPG membuka ruang komunikasi dengan penerima manfaat maupun pihak sekolah. Menurutnya, komunikasi tersebut diperlukan untuk mengetahui persoalan dalam pelaksanaan MBG dan menjadi bahan evaluasi.

"Kalau Kepala SPPG sudah menyampaikan bahwa mereka harus membuka ruang untuk berdiskusi, berkomunikasi kepada seluruh penerima manfaat juga. Jadi sebenarnya di SPPG itu wajib ada satu kali dalam sebulan untuk melakukan rapat, baik kepada PIC, sekolah, kepala dinas dan sebagainya," terangnya.

Sementara itu, Dinkes Bontang menemukan bakteri patogen dalam hasil pemeriksaan sampel pangan dari SPPG Bontang Utara 2. Investigasi dilakukan setelah pihaknya menerima laporan pada 5 Agustus 2026 terkait gangguan kesehatan penerima manfaat MBG.

Kepala Dinkes Bontang, dr Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan dari sekitar 2.036 penerima manfaat, ditemukan 27 kasus yang terdiri atas 14 siswa, 11 guru dan dua wali murid.

"Berdasarkan pemantauan tanggal 7 Agustus 2026, seluruh kasus dalam kondisi pulih atau stabil. Jadi sampai saat ini sudah tidak ada lagi, sudah pulih per tanggal 7 dan tidak ada penambahan kasus baru," katanya.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bakteri patogen ditemukan pada sampel ayam serundeng dan gulai sayur. Namun, temuan tersebut belum memastikan titik kontaminasi sehingga Dinkes masih menelusuri sejumlah tahapan dalam proses penyediaan makanan.

"Terutama pada saat penanganan dan pemorsian atau pengemasan makanan ke dalam wadah," jelas Toetoek.

Proses pendinginan makanan juga menjadi perhatian Dinkes. Penggunaan alat bantu seperti kipas angin dinilai perlu dipastikan kebersihannya agar tidak menjadi sumber kontaminasi pada makanan yang telah matang.

"Yang kedua, proses pendinginan makanan apabila dilakukan dengan sanitasi yang kurang baik, termasuk penggunaan alat bantu seperti kipas angin yang kebersihannya perlu dipastikan," ujarnya.

Dinkes juga menyoroti penggunaan bahan pengganti dalam pengolahan menu. Salah satunya kemiri yang digunakan sebagai pengganti santan kelapa karena santan disebut sudah tidak disarankan dalam ketentuan MBG.

"Yang ketiga adalah penggunaan bahan pengganti atau inovasi baru, berisiko lain apabila proses pengolahan tidak sesuai, seperti yang telah dilakukan penggunaan kemiri untuk menggantikan santan kelapa, karena santan sudah tidak disarankan," jelasnya.

Hasil investigasi tersebut selanjutnya menjadi bahan pembinaan dan evaluasi proses penyediaan makanan, terutama dalam penerapan higiene dan sanitasi, penanganan makanan setelah dimasak hingga pencegahan kontaminasi silang.

"Hasil pemeriksaan dan investigasi ini selanjutnya akan menjadi bahan pembinaan dan perbaikan proses penyediaan makanan, terutama dalam penerapan higiene dan sanitasi, penanganan makanan setelah dimasak, proses pengemasan dan pewadahan, serta pencegahan kontaminasi silang," pungkas Toetoek.

Terpisah, sebanyak 31 murid SMP Vidatra tercatat mendatangi RS LNG Badak pada Senin (10/8/2026) untuk mendapatkan penanganan medis setelah menyantap MBG. Sebanyak 11 murid masih menjalani perawatan, sementara siswa lainnya telah diperbolehkan pulang.

Pemerintah Kota Bontang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel sisa makanan yang dikonsumsi para siswa tersebut.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads