Hewan-hewan Ini Kebal dengan Bisa Ular

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 02 Agu 2026 10:03 WIB
Hewan garangan. Foto: WK Cheng/iNaturalist
Balikpapan -

Bisa ular dikenal mematikan. Dari satu kali patukan ular, bisanya mampu melumpuhkan sistem saraf, merusak jaringan tubuh, bahkan menyebabkan kematian baik pada manusia atau hewan.

Namun, ternyata ada beberapa makhluk hidup yang kebal dengan bisa ular. Di berbagai belahan dunia, terdapat sejumlah hewan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan dari gigitan ular berbisa.

Hewan yang Kebal dengan Bisa Ular

Dirangkum dari laman Kementerian Kehutanan, Smithsonian Magazine, AZ Animals, dan beberapa literatur, berikut penjelasan tentang beberapa hewan yang kebal dari bisa ular.

1. Garangan

Garangan jawa Foto: Dok. Laman iNaturalist

Garangan atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai mongoose, merupakan kelompok mamalia yang termasuk dalam famili Herpestidae. Salah satu spesies yang terkenal adalah garangan jawa, yang kerap dimanfaatkan untuk menghadapi dan membunuh ular berbisa, termasuk ular kobra.

Berkat kecepatan dan kekebalan mereka terhadap racun, garangan memiliki mutasi pada reseptor saraf yang membuat neurotoksin ular tidak dapat berikatan dan menyebabkan kerusakan. Hal ini memungkinkan garangan untuk bertarung dan menang melawan ular berbisa yang paling mematikan sekalipun.

Kemampuan tersebut didukung oleh gerakannya yang lincah, kecerdikannya saat berburu, serta bulunya yang cukup tebal sehingga membantu melindungi tubuhnya. Meski mampu mengalahkan ular berbisa, garangan umumnya tidak terlalu tertarik untuk memakan daging ular tersebut.

Garangan merupakan mesopredator, karena makanannya yang sangat beragam. Mangsa garangan jawa mulai dari moluska seperti siput, hewan melata seperti kadal dan ular, ikan, burung, sampai hewan pengerat seperti tikus.

Mesopredator memiliki peran penting bagi keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh, garangan jawa dapat digunakan sebagai agen pengendali biologi seperti burung hantu, yaitu pengendali hama tikus.

Garangan jawa tersebar di wilayah luas yakni Iran, India bagian utara, Myanmar, kawasan Indochina, Pulau Hainan, Thailand, Semenanjung Malaya, hingga Pulau Jawa. Selain itu, beberapa individu juga pernah tercatat ditemukan di Sumatra bagian utara dan kemudian dideskripsikan sebagai subspesies tersendiri.

Garangan telah lama dikenal sebagai salah satu musuh alami ular, terutama ular kobra. Pertarungan antara garangan dan ular berbisa sering menjadi gambaran yang populer di masyarakat.

2. Landak

Landak. Foto: JUICE Online/Site News

Landak merupakan mamalia dari ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat yang memiliki ciri khas berupa rambut tebal yang berubah menjadi duri-duri tajam sebagai alat pertahanan diri. Hewan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika, terutama di kawasan beriklim tropis.

Dikutip dari buku Bertualang ke Kebun Binatang oleh Kak Adib, landak dengan mudah dapat membunuh ular viper. Landak memiliki resistensi terhadap bisa ular berkat mekanisme molekuler yang menetralkan racun.

Landak juga memiliki 5.000-7.000 duri yang melindungi tubuhnya dari serangan fisik. Ular bisa terluka parh dan melemah, kemudian akan menggigit leher ular.

Sebagian besar landak merupakan hewan herbivora yang memakan daun, batang, serta kulit kayu. Kebiasaan mengonsumsi bagian tanaman tersebut membuat landak sering dianggap sebagai hama oleh para petani karena dapat merusak lahan pertanian.

3. Opossum

opossum Foto: (iStock)

Opossum atau biasanya disebut possum hidup di sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan merupakan salah satu mamalia tertua. Mereka punya kekebalan alami untuk melawan bisa ular berbisa, termasuk ular derik.

Bahkan, mereka sangat mahir dalam memproduksi peptida khusus yang sepenuhnya menetralkan bisa ular. Suatu peptida ribosomal sebelas asam amino terbukti dapat menetralkan sepenuhnya bisa ular derik.

Saat merasa terancam atau diserang, oposum memiliki mekanisme pertahanan unik berupa mati semu. Dalam kondisi ini, tubuhnya akan tampak seperti hewan yang sudah mati atau sedang sakit, baik dari segi penampilan maupun aroma yang dikeluarkan.

Ketika berpura-pura mati, bibir oposum akan tertarik ke belakang hingga memperlihatkan giginya, mulut mengeluarkan air liur berbusa, mata tertutup atau hanya terbuka sebagian, serta kelenjar di sekitar anus mengeluarkan cairan berbau menyengat.

Tubuhnya juga menjadi kaku sehingga tetap tidak bereaksi meskipun disentuh, dibalik, atau bahkan dipindahkan. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa menit hingga sekitar empat jam sebelum oposum kembali sadar secara perlahan, biasanya diawali dengan gerakan kecil pada telinganya.

Oposum merupakan kelompok mamalia berkantung yang termasuk dalam ordo Didelphimorphia dan berasal dari benua Amerika. Oposum tersebar di berbagai wilayah Amerika, mulai dari Amerika Utara, Amerika Tengah, hingga Amerika Selatan.




(aau/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB