Serupa Tak Sama, Beda Ular Kobra dan King Kobra

Serupa Tak Sama, Beda Ular Kobra dan King Kobra

Yudha Maulana - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 15:00 WIB
King Cobra (Ophiophagus hannah) The worlds longest venomous snake
King kobra (Foto: Ilustrasi/thinkstock)
Bandung -

Banyak orang yang menganggap kobra dan king kobra adalah satu spesies ular yang sama. Pasalnya, kedua hewan melata ini punya kemampuan mengembangkan tudung saat merasa terancam.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang ilmiah hingga karakteristik fisik dan perilakunya, keduanya bagaikan "bumi dan langit".

Mari kita bedah 7 perbedaan ular kobra dan king kobra berdasarkan penjelasan resmi Dr. Amir Hamidy, peneliti reptil dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta data herpetologi lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Klasifikasi Ilmiah (Taksonomi) yang Berbeda Genus

Perbedaan mendasar pertama terletak pada silsilah keluarga mereka. Meskipun sama-sama berasal dari famili Elapidae (kelompok ular berbisa bertaring pendek di depan), kobra sejati dan king kobra berada dalam genus yang berbeda:

  • Ular Kobra Sejati: Masuk ke dalam genus Naja. Nama ilmiahnya selalu diawali kata Naja, seperti kobra jawa (Naja sputatrix), kobra sumatra (Naja sumatrana), kobra india (Naja naja), kobra hutan (Naja melanoleuca), hingga kobra kaspia (Naja oxiana).
  • King Kobra: Merupakan spesies tunggal dalam genus Ophiophagus dengan nama ilmiah Ophiophagus hannah.

Nama Ophiophagus sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "pemakan ular", merujuk pada kebiasaan makan king kobra yang unik.

ADVERTISEMENT

2. Ukuran Tubuh: King Kobra adalah "Raja" Terpanjang di Dunia

Jika disandingkan, perbedaan ukuran kedua ular ini akan terlihat sangat mencolok.

  • King Kobra: Merupakan ular berbisa terpanjang di dunia. Ukuran rata-ratanya berkisar antara 3 hingga 3,6 meter, namun mereka dapat tumbuh raksasa hingga mencapai 5 sampai 6 meter.
  • Ular Kobra Sejati: Memiliki tubuh yang jauh lebih pendek. Ular kobra jawa, yang merupakan salah satu jenis kobra terbesar, ukuran maksimalnya hanya berkisar antara 1,3 hingga 1,8 meter. Kobra sumatra bahkan relatif lebih kecil dari kobra jawa.

Sementara itu, kobra hutan memiliki panjang maksimum sekitar 2,74 meter dan kobra kaspia rata-rata hanya sepanjang 1 meter.

3. Kemampuan Menyemburkan Bisa (Spitting Venom)

Apakah semua ular kobra bisa meludahkan bisanya? Jawabannya adalah tidak, dan ini menjadi salah satu pembeda utama antara kedua ular ini.

  • Ular Kobra Sejati: Beberapa spesies kobra sejati dibekali kemampuan pertahanan diri luar biasa berupa kemampuan menyemburkan atau meludahkan bisa (spitting cobra).

Contohnya adalah kobra jawa (Javan spitting cobra), kobra indochina (Naja siamensis), dan kobra mozambik (Naja mossambica). Semburan bisa ini diarahkan ke mata musuh dan dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak segera ditangani secara medis.

  • King Kobra: Sama sekali tidak memiliki kemampuan menyemburkan bisa. Mereka hanya mengantarkan bisa mematikan mereka lewat gigitan langsung.

4. Bentuk, Motif Tudung, dan Sisik Kepala

Saat merasa terancam atau marah, kedua ular ini akan menegakkan tubuh dan mengembangkan tudung kepalanya. Namun, detail anatomi tudung dan kepala mereka sangatlah berbeda:

ilustrasi kobrailustrasi kobra (Foto: iStock)
  • Tudung (Hood): Tudung ular kobra sejati cenderung lebih lebar dan pendek. Sementara tudung king kobra berukuran lebih panjang dan sempit. Saat marah, king kobra bahkan bisa menegakkan hingga sepertiga bagian tubuhnya ke atas.
  • Motif Tudung: Bagian belakang tudung king kobra memiliki pola garis menyerupai huruf V terbalik yang disebut pola chevron. Sedangkan motif pada kobra sejati bervariasi tergantung masing-masing spesies.
  • Sisik Oksipital: Jika Anda melihat bagian atas kepalanya, king kobra memiliki sepasang sisik oksipital yang besar dan memanjang di bagian belakang kepala. Ciri anatomi khusus ini sama sekali tidak dimiliki oleh ular kobra sejati.
King Cobra (Ophiophagus hannah) The world's longest venomous snakeKing Cobra (Ophiophagus hannah) (Foto: Ilustrasi/thinkstock)

5. Menu Makanan: Oportunis vs Kanibal Spesialis Ular

Kebiasaan berburu dan makanan kesukaan kedua predator ini juga menunjukkan perbedaan mencolok:

  • Ular Kobra Sejati: Merupakan pemburu oportunis yang tidak pilih-pilih mangsa. Mereka memangsa kodok, katak, ikan, hingga kadal. Namun, mangsa favorit mereka adalah hewan berdarah panas seperti tikus, kelinci, dan mamalia kecil lainnya. Keberadaan tikus inilah yang sering menarik ular kobra masuk ke area pemukiman manusia.
  • King Kobra: Sesuai nama genusnya (Ophiophagus), king kobra adalah spesialis pemakan ular. Makanan utamanya adalah ular jenis lain, baik ular tidak berbisa maupun sesama ular berbisa.

6. Tempat Tinggal (Habitat) dan Interaksi dengan Manusia

Menurut Dr. Amir Hamidy dari BRIN, perbedaan habitat alamiah memengaruhi seberapa sering kedua ular ini berinteraksi dengan manusia.

  • Ular Kobra Sejati: Lebih menyukai lokasi yang terbuka seperti persawahan, ladang, semak belukar, hingga kawasan sekitar pemukiman warga. Secara alami, ular kobra sejati inilah yang paling sering berinteraksi langsung dengan manusia karena mereka aktif mengejar mangsanya (seperti katak dan tikus) yang banyak hidup di sekitar rumah manusia.
  • King Kobra: Habitat alaminya adalah kawasan hutan lebat dan hutan hujan. Mereka sangat pemalu, berhati-hati, dan cenderung menghindari pemukiman manusia. Konflik king kobra dengan manusia biasanya hanya terjadi jika habitat mereka rusak, atau jika ular tersebut dipelihara di dalam kandang dan lepas.

7. Perilaku Reproduksi dan Pembuatan Sarang yang Unik

Ular pada umumnya meletakkan telur di sembarang tempat yang tersembunyi, namun tidak dengan king kobra.

  • King Kobra: Merupakan satu-satunya ular di dunia yang mampu membangun sarang sendiri untuk telur-telurnya. King kobra betina akan mengumpulkan gundukan dedaunan kering (seperti daun bambu) untuk dijadikan sarang. Sang induk betina akan menjaga sarangnya dengan sangat ketat selama masa inkubasi (75-100 hari). Menariknya, ketika telur-telurnya hampir menetas, induk king kobra akan pergi meninggalkan sarang agar ia tidak memakan anaknya sendiri.
  • Ular Kobra Sejati: Tidak membangun sarang dari tumpukan daun. Mereka meletakkan telur-telurnya di dalam lubang tanah atau tempat-tempat tersembunyi yang berkarakteristik lembap, gelap, dan hangat tanpa penjagaan seketat king kobra.

Mana yang Bisanya Lebih Mematikan?

Kedua jenis ular ini memiliki bisa (venom) yang sangat mematikan bagi manusia. Keduanya menyuntikkan bisa melalui taring kaku yang terletak di bagian depan mulut mereka (tipe taring proteroglypha).

Secara umum, bisa ular terdiri atas beberapa jenis racun:

  • Neurotoksin: Menyerang sistem saraf. Gigitannya sering kali tidak terasa sakit pada awalnya, tetapi efeknya sangat cepat melumpuhkan saraf pernapasan hingga menyebabkan kematian.
  • Hemotoksin: Menyerang sistem peredaran darah, menyebabkan pendarahan hebat. Efeknya tidak secepat neurotoksin.

Bagaimana perbandingan kekuatan bisa mereka?

  • Bisa King Kobra: Memiliki jenis racun neurotoksin yang sangat kuat. Dengan dosis sekali gigit mencapai 400-500 mg bisa, jumlah racun ini mampu membunuh hingga 11 manusia dewasa atau bahkan seekor gajah dewasa dalam waktu singkat!
  • Bisa Kobra Sejati: Memiliki campuran neurotoksin dan sitotoksin. Menariknya, spesies kobra sejati bernama kobra kaspia (Naja oxiana) memegang rekor sebagai kobra paling berbisa di dunia, di mana satu gigitannya sanggup menewaskan hingga 42 orang. Di sisi lain, kobra hutan menjadi kobra dengan jumlah volume bisa terbanyak dalam sekali gigit, yakni mencapai 1.102 mg bisa.

Secara statistik gigitan, kobra india merupakan "pembunuh" manusia terbanyak dengan estimasi merenggut hingga 50.000 jiwa setiap tahunnya di berbagai belahan dunia.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads