Kalteng Vs Karhutla yang Bertubi-tubi Sepanjang Juli

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 29 Jul 2026 12:31 WIB
Karhutla di Desa Tumbang Nusa/Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Bau asap mulai tercium di sejumlah kawasan Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah yang melonjak tajam sepanjang Juli 2026.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan hingga 28 Juli 2026 telah terdeteksi 3.863 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kalteng. Yang mengkhawatirkan, sebanyak 1.848 hotspot atau hampir separuh dari total sepanjang tahun muncul hanya dalam bulan Juli.

Tak hanya jumlah hotspot yang melonjak, frekuensi karhutla juga meningkat. Setelah enam bulan pertama tahun ini relatif terkendali, Juli mencatat 393 kejadian, jauh melampaui Januari yang sebanyak 112 kejadian maupun bulan-bulan lainnya yang berada di bawah 80 kejadian.

"Luas lahan yang terbakar pun ikut melonjak. Dari hanya 25,92 hektare pada Juni, sepanjang Juli melesat menjadi 710,58 hektare. Pada 26 Juli saja, BPBD mencatat 241 hotspot, 21 kejadian karhutla, dan total luas lahan yang terbakar mencapai 44,96 hektare," ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib, Rabu (29/7/2026).

Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan hotspot terbanyak di Kalteng, yakni 503 titik. Disusul Kapuas 489 titik, Lamandau 480 titik, Katingan 424 titik, Pulang Pisau 364 titik, Sukamara 357 titik, Seruyan 313 titik, Gunung Mas 287 titik, Barito Utara 211 titik, Murung Raya 115 titik, Kotawaringin Barat 97 titik, Barito Selatan 84 titik, Palangka Raya 83 titik, serta Barito Timur 56 titik.

Meski jumlah hotspot di Palangka Raya tidak sebesar beberapa kabupaten lainnya, ibu kota provinsi itu justru menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, mencapai 248 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kotawaringin Timur dengan 125 kejadian, Barito Utara 67 kejadian, Kotawaringin Barat 65 kejadian, dan Kapuas 20 kejadian.

"Sementara berdasarkan luas lahan yang terbakar, Sukamara mencatat kerusakan terbesar dengan 256,35 hektare. Disusul Kotawaringin Timur seluas 234,18 hektare, Palangka Raya 150,50 hektare, Kotawaringin Barat 114,46 hektare, Pulang Pisau 110,25 hektare, dan Seruyan 84,10 hektare," kata dia.

Di Palangka Raya, BPBD melaporkan enam kejadian karhutla pada 26 Juli. Empat titik telah dipadamkan, sedangkan dua lokasi masih dalam proses penanganan karena berada di lahan gambut.

Lokasi yang masih mengeluarkan asap berada di Jalan Hasanka, Kelurahan Kalampangan, yang terbakar sejak 21 Juli, serta Jalan Ketimpun Permai KM 13, Kelurahan Petuk Ketimpun. Kebakaran di lokasi kedua telah menghanguskan sekitar 8,5 hektare lahan gambut dan belum sepenuhnya padam. Sementara kebakaran di Jalan Yos Sudarso Ujung, Jalan Yos Sudarso Lanjutan, Jalan Danau Indah, dan Jalan Kahuripan telah berhasil dipadamkan dengan luas lahan terbakar antara 0,03 hingga 2,35 hektare.

"Perhatian juga masih tertuju ke Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Kebakaran di lahan gambut seluas sekitar 60 hektare itu telah memasuki hari ke-25 pemadaman dan hingga kini masih mengeluarkan asap," tambahnya.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur, kebakaran di Desa Bawan, Kecamatan Mentaya Hulu sekitar 15 hektare juga masih terus dipadamkan. Hasil patroli udara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih mendeteksi kepulan asap di sejumlah kawasan seperti Sabangau, Jekan Raya, Tasik Payawan, Katingan Kuala, Kota Besi, hingga Tumbang Nusa.

Ia mengatakan lonjakan hotspot menjadi indikator meningkatnya potensi karhutla seiring puncak musim kemarau. "Sepanjang Juli memang terjadi peningkatan hotspot maupun kejadian karhutla. Karena itu kami terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pengendalian di lapangan," ujarnya.

Menurut Toyib, pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan melalui sosialisasi, larangan membuka lahan dengan cara membakar, patroli, hingga pemadaman terpadu bersama Satgas Karhutla.

Ia mengingatkan masyarakat agar segera melapor jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan. Menurutnya, kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit ditangani karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.



Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"

(sun/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork