El Nino 'Mengganas', Waspada Ancaman Karhutla Se-Kalimantan

El Nino 'Mengganas', Waspada Ancaman Karhutla Se-Kalimantan

Cicin Yulianti - detikKalimantan
Sabtu, 25 Jul 2026 22:00 WIB
Ilustrasi El Nino dan Musim Kemarau
Ilustrasi El Nino. Foto: jcomp/Freepik
Balikpapan -

Dampak El Nino diprediksi bakal membahayakan mayoritas wilayah di Kalimantan. Diungkap Pakar Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, ada potensi fenomena Super El Nino pada tahun 2026.

Dikutip detikEdu melalui unggahannya di media sosial X, ia menyebut karakter El Nino kali ini diprediksi akan lebih 'mengganas'. Kondisi El Nino 2026 menurutnya berbeda dengan kondisi pada 2023, sebab tahun ini lebih tinggi dibandingkan pada puncak El Nino 2023.

"Oleh karena itu, wilayah-wilayah yang rentan dengan Karhutla seperti Kalimantan barat, timur, tengah, selatan dan Sumsel, harus dicegah dari kejadian Karhutla apalagi di kawasan gambut. Sebab perpaduan udara yang kering, angin yang lemah, absen dari hujan yang lama (prolonge dry spells), memicu sebaran hotspot yang massif dan menjadi lingkungan yang sangat mendukung bagi api untuk lekas menyebar luas," kata Erma dalam unggahannya di X, dikutip Jumat (24/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun dampak dari fenomena ini akan dirasakan secara global maupun regional contohnya badai-badai yang semakin intens. Badai ini akan membuat wilayah Amerika, Filipna dan negara di lintang menengah tinggi berpotensi banjir.

"Sementara Indonesia akan menjadi daerah bayangan hujan dari Samudra Pasifik, alias terimbas kekeringan yang bakal kian hari kian meluas. El Nino diprediksi akan terus menguat dan mencapai SUPER pada Agustus 2026 berdasarkan data dari BOM dan JAMSTEC," katanya.

Sementara itu, hanya sebagian kecil Indonesia yang masih tetap basah saat El Nino, yaitu di wilayah Sumatra bagian utara, sebagian Sulawesi dan Kalimantan bagian utara yang berbatasan dengan Brunei dan Malaysia.

Erma dan para ilmuwan lainnya melihat bahwa pertumbuhan El Nino 2026 sangat cepat atau "rapid developing". Sejak Februari 2026 hingga saat ini, kenaikan mingguaannya mencapai 0,2Β°C.

"Tak ada fluktuasi sama sekali sebagaimana 2023 yang sempat turun bahkan stagnan. Pertumbuhan yang agresif ini menunjukkan 'keganasan' El Nino 2026," kata Erma.

Erma menyebut pemanasan permukaan (sub-surface) Samudra Pasifik tidak ada apa-apanya dibandingkan di bawah permukaan yang panasnya bisa 2-3 kali lebih tinggi. Suhu tertingginya bisa mencapai 9Β°C.

"Ke mana kelebihan panas itu ditransfer kalau tidak ke seluruh penjuru laut terutama ke permukaan? Jika ada kondisi terlalu panas di permukaan laut, kemana kelebihannya ditransfer kalau tidak ke atmosfer? Inilah mengapa Super El Nino dipastikan bakal terjadi dan suhu muka laut bakal terus menanjak secara progresif," kata Erma.

Ia mengungkapkan bahwa lembaga pemantau cuaca ekstrem di Eropa atau Severe Weather Europe telah mengonfirmasi indikasi kehadiran Super El Nino tersebut.

"Akhirnya, lembaga resmi cuaca ekstrem Eropa telah menyebutkan tentang SUPER El Nino dan konsekuensi perubahan sirkulasi di atmosfer yang ditimbulkannya," ucapnya.

Erma menyampaikan saat ini intensitas El Nino dilaporkan telah mencapai angka 1,74Β°C, dan termasuk El Nino kuat. Nilai ini bahkan sudah melewati catatan puncak El Nino pada tahun 2023, padahal fase saat ini belum mencapai puncaknya.

"Fix, El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023. Begitupun dengan dampak yang ditimbulkannya," kata Erma.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads