Guru di Banggai Meratapi Murid-muridnya yang Bertaruh Nyawa Demi Sekolah

Regional

Guru di Banggai Meratapi Murid-muridnya yang Bertaruh Nyawa Demi Sekolah

Rangga Musabar - detikKalimantan
Jumat, 24 Jul 2026 13:30 WIB
Siswa di Banggai saling berpegangan menyeberangi sungai demi ke sekolah.
Foto: Siswa di Banggai saling berpegangan menyeberangi sungai demi ke sekolah. (dok. istimewa)
Balikpapan -

Di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), ada sejumlah siswa SMP Negeri Satu Atap (Satap) Batui 5 yang mempertaruhkan keselamatannya setiap hari. Mereka menyeberangi sungai berarus deras saat pergi dan pulang sekolah.

Dikutip detikSulsel, pemandangan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Sebab, belum adanya akses yang menghubungkan permukiman siswa dengan sekolah.

"Anak murid saya kalau mau pergi ke sekolah harus lewat jalur sungai tiap hari, pergi sekolah maupun pulang sekolah," ujar Tenaga Pendidik SMP Negeri Satap Batui 5, Jumrah, kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumrah menyebut kondisi sungai sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan deras mengguyur, debit air meningkat hingga meluap dan membuat siswa tidak dapat menyeberang.

"Beberapa kali siswanya tidak bisa ke sekolah gara-gara itu. Guru-guru ada toleransi karena sungai meluap," ujarnya.

Menurutnya, situasi tersebut bahkan pernah mengganggu pelaksanaan ujian karena sejumlah siswa terhalang banjir sungai. Hingga kini, belum tersedia jembatan maupun fasilitas penyeberangan yang aman.

Saat debit air rendah, siswa masih bisa menyeberang. Namun ketika arus sungai deras, keselamatan mereka menjadi taruhan.

"Bahaya karena nyawa taruhannya apalagi naik air," katanya.

Sekolah kerap mengambil langkah antisipasi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Salah satunya memulangkan siswa lebih awal agar mereka dapat menyeberang sebelum debit air meningkat.

"Belum waktu pulang sekolah. Tapi karena hujan deras kami berinisiatif kasi pulang, kami kawal sampai pinggir sungai, ternyata di sebelah sungai orang tuanya sudah menunggu," tutur Jumrah.

Ia mebambahkan kondisi tersebut bukan persoalan baru. Sejak sebelum dirinya mengajar di SMPN Satap Batui 5, siswa sudah harus melewati sungai setiap hari untuk mengakses sekolah. Bahkan, para alumni sekolah juga mengalami kondisi serupa.

Jumrah berharap pemerintah segera membangun jembatan agar para siswa dapat berangkat dan pulang sekolah dengan aman tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

"Buatkan jembatan atau apa saja itu yang penting anak didik saya bisa ke sekolah tanpa melewati air sungai," harapnya.

Baca selengkapnya di sini.



(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads