Ruangan Penuh, Murid SD di Kobar Terpaksa Belajar Lesehan

Kalimantan Tengah

Ruangan Penuh, Murid SD di Kobar Terpaksa Belajar Lesehan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 17 Jul 2026 06:59 WIB
Siswa SDN di Kumai, Kotawaringin Barat terpaksa belajar lesehan di lantai karena minimnya ruangan kelas.. (dok Istimewa)
Foto: Siswa SDN di Kumai, Kotawaringin Barat terpaksa belajar lesehan di lantai karena minimnya ruangan kelas.. (dok Istimewa)
Kotawaringin Barat -

Potret memprihatinkan dunia pendidikan masih terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Puluhan siswa SDN 1 Batu Belaman, Kecamatan Kumai, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan duduk lesehan di lantai akibat minimnya ruang kelas.

Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak awal tahun ajaran 2026. Lonjakan jumlah peserta didik membuat ruang belajar yang tersedia tidak lagi mampu menampung seluruh siswa, sehingga sebagian kelas dipindahkan ke bangunan sederhana hasil swadaya masyarakat.

Bangunan yang digunakan itu dibangun melalui dukungan komite sekolah. Namun fasilitasnya masih sangat terbatas karena belum dilengkapi meja, kursi maupun sarana belajar yang memadai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guru SDN 1 Batu Belaman, Hj Syarifah, mengatakan sekolah saat ini hanya memiliki delapan ruang kelas, sementara kebutuhan ideal mencapai 12 ruang agar seluruh proses belajar mengajar dapat berjalan normal.

"Jumlah murid saat ini mencapai 343 orang. Sebelum kegiatan belajar di ruangan swadaya dimulai, kami sudah menyampaikan kondisi ini kepada orang tua siswa. Mereka memahami, tetapi tentu kami kasihan melihat anak-anak jika terus belajar dengan fasilitas yang serba terbatas," ujarnya saat ditemui di sekolah, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, SDN 1 Batu Belaman merupakan satu-satunya sekolah dasar yang ada di Desa Batu Belaman. Kondisi tersebut membuat sekolah harus menampung seluruh anak usia sekolah dasar di desa tersebut.

"Di sisi lain, pertumbuhan penduduk terus meningkat seiring berkembangnya kawasan perumahan baru. Dampaknya, jumlah peserta didik setiap tahun terus bertambah, sementara penambahan ruang kelas belum pernah terealisasi," lata dia.

Menurut Syarifah, pihak sekolah sebenarnya telah mengusulkan pembangunan ruang kelas baru melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sejak 2023 hingga 2024. Bahkan, Dinas Pendidikan juga telah beberapa kali melakukan peninjauan ke lokasi.

"Meski demikian, hingga kini belum ada pembangunan ruang kelas baru yang dapat menjawab kebutuhan sekolah. Akibatnya, proses belajar mengajar masih harus berlangsung dengan segala keterbatasan," ujarnya.

Tak hanya kekurangan ruang belajar, SDN 1 Batu Belaman juga masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Hingga saat ini sekolah belum memiliki guru Pendidikan Agama Islam berstatus definitif dan masih mengandalkan guru honorer yang dibiayai oleh pihak sekolah.

Sementara itu, Sekretaris Desa Batu Belaman, Mahmudin, membenarkan jumlah penduduk di wilayahnya terus bertambah. Secara administrasi tercatat lebih dari 2.500 jiwa, namun jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena banyaknya warga yang menetap di perumahan baru.

"Dengan hanya satu sekolah dasar di desa, pembangunan ruang kelas baru harus segera direalisasikan," kata Mahmudin.

Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh fasilitas pendidikan yang layak agar proses belajar berlangsung nyaman dan kualitas pendidikan di Batu Belaman dapat terus meningkat. "Harapan kami semua anak mendapat fasilitas yang sama dalam hal pendidikan," pungkasnya.



(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads