Mengenal Bajakah Lebih Jauh

Mengenal Bajakah Lebih Jauh

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 03 Jul 2026 08:00 WIB
Bajakah Tempala di habitat aslinya
Bajakah Tempala di habitat aslinya/Foto: Istimewa (dok PlantaeDB/tedi.rustandi)
Palangka Raya -

Bajakah adalah salah satu tanaman dari hutan tropis Kalimantan. Namanya terkenal setelah pada 2019, ditemukan potensi antikanker dari bajakah oleh pelajar SMAN 2 Palangka Raya.

Tanaman merambat itu telah lama digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit. Tapi ternyata, ada banyak jenis bajakah di Kalimantan, bukan hanya merujuk pada satu tanaman saja.

Dalam bahasa Dayak, bajakah adalah sebutan dari tanaman merambat berkayu yang tumbuh alami di hutan Kalimantan. Tanaman ini menjalar di pohon-pohon besar untuk mendapatkan cahaya matahari dan panjangnya bisa mencapai puluhan meter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga saat ini, peneliti telah mengidentifikasi beberapa spesies yang oleh masyarakat sama-sama disebut bajakah. Di antaranya berasal dari genus Spatholobus, Uncaria, Fibraurea, dan Salacia.

Sementara itu, jenis bajakah yang banyak diteliti potensi khasiatnya adalah Spatholobus littoralis Hassk. yang lebih dikenal dengan bajakah tempala. Selain itu, di hutan rawa gambut Kalimantan Tengah juga ditemukan bajakah atau akar merah (Uncaria acida) dan bajakah atau akar kuning (Fibraurea tinctoria).

Bajakah Bukan Endemik Kalimantan?

Dalam ilmu biologi, suatu flora atau fauna dikatakan endemik jika hanya hidup secara alami di satu wilayah geografis tertentu dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia secara alami. Melihat persebaran bajakah tempala dari Plants of World Online, tumbuhan itu bisa ditemukan pula di beberapa negara di Asia, seperti Filipina dan Malaysia.

Artinya, bajakah bukan tanaman yang seluruh spesiesnya hanya hidup di Kalimantan. Akan tetapi, Kalimantan merupakan salah satu pusat penyebaran sekaligus wilayah yang memiliki keanekaragaman jenis bajakah paling tinggi. Pemanfaatannya secara tradisional juga berkembang paling kuat di kalangan masyarakat Dayak.

Di Indonesia, bajakah banyak ditemukan di pedalaman hutan Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, hingga sebagian Kalimantan Timur, terutama pada kawasan hutan primer, hutan sekunder, dan rawa gambut. Tanaman ini akan sulit dijumpai di hutan yang masih dekat dengan permukiman, karena hanya tumbuh di wilayah yang tutupan hutannya rapat dan minim cahaya matahari.

Penemu Bajakah Tempala

Bajakah tampala baru pertama kali dideskripsikan oleh ahli botani berkebangsaan Jerman-Belanda, Justus Carl Hasskarl (1811-1894). Hasskarl mempublikasikan deskripsi ilmiah spesies itu pada tahun 1842 dalam jurnal botani Flora volume 25.

Hasskarl merupakan seorang ahli botani yang bekerja di Kebun Raya Buitenzorg, saat ini Kebun Raya Bogor, pada masa Hindia Belanda. Selama bertugas di Nusantara pada 1830-an hingga 1840-an, Hassk melakukan eksplorasi flora di berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa dan Kalimantan. Dari hasil eksplorasi tersebut, Hasskarl mendeskripsikan sejumlah tumbuhan tropis yang sebelumnya belum memiliki nama ilmiah, termasuk Spatholobus littoralis.

Penelitian mengenai potensi bajakah di Indonesia kemudian meningkat pesat pada 2019 setelah hasil penelitian tiga pelajar SMA Negeri 2 Palangka Raya menemukan potensi antikanker bajakah dan meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) di Korea Selatan.

Sejak saat itu, bajakah menjadi salah satu tanaman obat yang paling banyak diteliti di Indonesia, meskipun sampai saat ini manfaat medisnya masih terus dikaji melalui penelitian praklinis dan uji ilmiah lebih lanjut.

Ciri-ciri dan Morfologi Bajakah

Bajakah merupakan tumbuhan liana atau tanaman merambat berkayu dengan batang yang relatif besar dan kuat. Diameter batang bisa mencapai belasan sentimeter, sementara panjang sulurnya mampu menjalar puluhan meter mengikuti batang pohon lain.

Kulit batang bajakah biasanya berwarna cokelat hingga kemerahan, sedangkan bagian kayunya memiliki warna yang bervariasi sesuai jenisnya, bisa merah atau kuning. Daun bajakah berbentuk majemuk dengan bentuk lonjong hingga oval.

Penelitian di rawa gambut Sebangau menunjukkan bajakah tumbuh optimal di dataran rendah dengan suhu sekitar 31 derajat Celcius, kelembapan tinggi sekitar 75 persen, serta intensitas cahaya yang relatif rendah karena berada di bawah tajuk hutan. Karena terletak di tengah hutan dengan tutupan rapat, bajakah justru lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak yang tinggal di pedalaman.

Maka dari itu, tanaman yang satu ini dikenal sebagai salah satu tanaman warisan suku Dayak yang kaya manfaat. Penasaran apa saja manfaatnya? Simak penjelasannya dalam artikel selanjutnya.

Bajakah, tanaman obat khas Kalimantan.Ilustrasi kayu bajakah/ Foto: Dok. Kominfo Palangka Raya



(sun/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads