Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 2019 silam merupakan salah satu bencana yang terparah. Tak hanya menjadi bencana bagi manusia, tetapi juga menjadikan para satwa sebagai korban.
Sisi lain bencana tersebut, masih tersisa kehebohan tentang viralnya foto bangkai reptil yang diklaim sebagai 'ular raksasa' yang mati terpanggang. Ular ini sempat dianggap sebagai ular tangkalaluk yang legendaris di Kalimantan, tapi ada juga pihak yang menepis informasi ini.
Seperti apa ceritanya? Simak ulasan Kalimantan Flashback berikut ini yang dirangkum dari catatan detikcom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Viral Ular Raksasa Terbakar
Kerusakan habitat secara besar-besaran memang berdampak langsung pada kelangsungan hidup satwa endemik. Media sosial saat itu juga dihebohkan dengan foto ular yang menjadi korban kebakaran hutan.
Ular ini bikin heboh karena tampak berukuran besar, hingga muncul sebutan ular raksasa buatnya. Hal ini juga dikaitkan dengan adanya legenda ular tangkalaluk penunggu hutan yang diyakini ukurannya mencapai 10 meter.
Ular tangkalaluk ini juga diyakini sebagai ular berjenis Python reticulatus. Namun sayangnya, kebenaran foto ular raksasa tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.
Rihel, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur saat itu, juga menduga ular tersebut berjenis python atau sanca. Namun dia tidak mendapatkan laporan terkait keberadaan ular viral itu.
"Itu ular piton. Tapi belum ada laporan dari masyarakat soal ular itu," kata Adib, Senin (16/9/2019).
Namun dia membenarkan bahwa insiden karhutla tersebut memakan banyak korban satwa liar, termasuk ular-ular yang tak sempat menyelamatkan diri. Selain itu, sejumlah orang utan juga harus dievakuasi secara darurat oleh tim BKSDA.
Ketua BKSDA Kalimantan Tengah saat itu, Adib Gunawan, mengaku telah melihat foto tersebut di media sosial, meski pihaknya belum mendapat laporan resmi dari lapangan.
Mengingat gentingnya kondisi hutan yang terbakar, tim di lapangan tidak menjadikan pencarian satwa spesifik sebagai prioritas utama. Mengamankan api adalah hal yang paling mendesak.
"Kita tidak konfirmasi satu-satu, kita fokus pemadaman," katanya waktu itu.
Meskipun demikian, Adib tidak menutup kemungkinan adanya ular raksasa di hutan Kalimantan. Menurutnya ular sanca di wilayah Kalteng memang bisa tumbuh hingga 10 meter, karena dia pernah melihat langsung ular sepanjang 8 meter.
Ular Piton Raksasa jadi korban kebakaran hutan Kalimantan Foto: (Facebook/Johan Michael Median Pasha) |
Analisa Panji Petualang
Kehebohan warganet rupanya turut memancing perhatian pegiat reptil ternama, Panji Petualang. Berbeda dengan klaim warganet yang menyematkan julukan 'Raja Piton' berukuran raksasa, Panji justru memberikan pandangan lain.
Berdasarkan analisisnya, spesies itu secara ilmiah adalah Python reticulatus (sanca kembang). Meski berukuran besar, ia membantah narasi bahwa ular di foto tersebut adalah ular raksasa.
"Dari ciri fisik yang saya amati, mulai dari kepala, bentuk gigi, dan sisik, yang ada di kepala saya menyimpulkan bahwa ini adalah ular sanca kembang atau Reticulatus Python. Ini memang ular yang besar namun yang di foto bukanlah ular raksasa seperti info yang beredar," ujar Panji, Rabu (18/9/2019).
Panji menjelaskan bahwa efek raksasa pada foto diakibatkan teknik pengambilan gambar tertentu.
"Hutan Sumatera dan Kalimantan itu kan sangat luas, jadi memungkinkan sekali untuk ular besar itu memang ada dan hidup di hutan. Tapi untuk yang di foto viral tersebut, saya amati bukanlah ular mitos yang dipercayai penduduk. Namun, itu hanyalah ular piton kecil yang terbakar dan di foto dengan angle zoom, hingga menghasilkan ilusi optik seakan ular itu terlihat besar," tambah Panji.
Legenda Ular Tangkalaluk
Sementara terkait legenda ular tangkalaluk, Panji menjelaskan jenis ular tersebut memang jarang menampakkan diri, sehingga sering dianggap sebagai makhluk astral atau bagian dari mitos setempat. Namun secara ilmiah, Panji menyebut ular ini bisa berukuran 11 meter.
"Sanca kembang adalah ular piton terpanjang di dunia. Dan ular besar yang ada di Kalimantan dan Sumatera bisa disebut giant python. Karena ular ini bisa tumbuh sampai maksimal panjangnya 11 meter," lanjutnya.
Panji juga menambahkan bahwa sulitnya manusia menemukan ular ini murni karena insting bertahan hidup mereka, bukan karena unsur supranatural. Ular berukuran raksasa adalah predator penyergap yang sangat menghindari keramaian.
"Ular piton berukuran raksasa hidup di hutan yang jauh dari jangkauan manusia atau kehidupan manusia. Mereka hidup bersembunyi untuk berburu mangsa. Setelah mengintai mangsanya, di saat ada kesempatan dia akan menyerang buruannya dan melilit dan mengunci dengan ekornya," tambahnya.
Kilas Balik Karhutla 2019
Untuk diketahui, peristiwa karhutla 2019 itu merupakan salah satu bencana lingkungan terparah. Bencana menghanguskan lebih dari 857 ribu hektare lahan secara nasional.
Musim kemarau yang panjang nyatanya bukan satu-satunya dalang, melainkan diperparah oleh pembukaan lahan yang disengaja. Hal ini terbukti dari langkah tegas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyegel puluhan perusahaan dan menetapkan sejumlah perusahaan sawit sebagai tersangka.
Pada masa puncaknya di pertengahan September 2019, api mengamuk tak terkendali. Di Kalimantan Tengah saja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kemunculan 1.996 titik api hanya dalam sehari.
Pemadaman menjadi misi yang sangat berat karena karakteristik lahan gambut di wilayah tersebut; api tidak hanya membakar pepohonan di permukaan, tetapi juga menjalar tak kasat mata jauh di bawah tanah.
Akibatnya, kabut asap pekat menyelimuti wilayah tersebut selama berminggu-minggu, memicu kualitas udara yang berbahaya, bahkan menyeberang hingga ke Malaysia dan Singapura.
Untuk menjinakkan neraka ekologis ini, pemerintah menerjunkan lebih dari 29 ribu personel, melakukan water bombing dengan puluhan helikopter, hingga memodifikasi cuaca demi memancing hujan buatan.

