Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas menyimpulkan bahwa belasan siswa SD di Kecamatan Selakau mengalami keracunan makanan akibat dari makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (21/5/2026). Saat ini, hasil uji laboratorium sampel menu sedang ditunggu.
Kepala Dinas Kesehatan Sambas, Ganjar Eko Prabowo mengatakan, dugaan sementara hasil investigasi mengarah pada makanan MBG yang dikonsumsi siswa sebelum mengalami gejala gangguan pencernaan.
"Berdasarkan hasil investigasi saat ini dapat disimpulkan bahwa dugaan sementara kasus gangguan pencernaan yang terjadi pada siswa tersebut bersumber dari makanan yang didapatkan dari program MBG," kata Ganjar dalam keterangan yang diterima detikKalimantan, Sabtu (23/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa itu terjadi di SDN 06 Sungai Rusa dan SDN 08 Sungai Daun, Kecamatan Selakau. Sebanyak 15 siswa sempat dilarikan ke Puskesmas Selakau dengan keluhan nyeri perut, mual, muntah, badan lemas hingga pusing.
Dari hasil wawancara petugas kesehatan terhadap siswa dan guru, seluruh siswa diketahui sempat menyantap makanan MBG sekitar dua jam sebelum muncul gejala. Menu MBG yang disantap siswa terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung, tempe saus kecap, tumis kuning timun dan wortel, serta buah pisang.
Makanan tersebut dipasok oleh SPPG Sambas Selakau Sungai Nyirih yang berada di Jalan Raya Desa Sungai Daun, Kecamatan Selakau.
Ganjar mengatakan, seluruh siswa telah mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik. Namun pemantauan kesehatan masih terus dilakukan oleh pihak puskesmas, sekolah, kepolisian, kecamatan hingga Loka POM Sambas.
Sementara itu, Dinas Kesehatan bersama petugas pengawas langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengamankan sampel makanan dari sekolah maupun lokasi pengolahan makanan.
"Sampel makanan saat ini dalam proses pengiriman ke Balai Besar POM Pontianak untuk pemeriksaan laboratorium," ujarnya.
Meski Dinkes menyebut dugaan kuat berasal dari MBG, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan keluar dalam 14 hari ke depan.
"Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium oleh Balai Besar POM Pontianak," pungkas Ganjar.
(bai/bai)
