Wahidin Soedirohoesodo: Dokter, Seniman, hingga Penasihat Rumah Tangga

Sejarah

Wahidin Soedirohoesodo: Dokter, Seniman, hingga Penasihat Rumah Tangga

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Rabu, 20 Mei 2026 19:00 WIB
dr Wahidin Soedirohoesodo
Foto: dr Wahidin Soedirohoesodo (Bagus Prihantoro/detikcom)
Balikpapan -

Nama dr Wahidin Soedirohoesodo sering disebut setiap kali kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Sosoknya penting dalam pendirian organisasi Budi Utomo, yang menjadi tonggak pergerakan pemuda Indonesia.

Banyak kisah sejarah yang menceritakan sosok Sang Dokter Bangsa tersebut. Namun detikers mungkin belum mengetahui sisi lain dari dr Wahidin. Bukan hanya dokter, dia juga seniman, bahkan penasihat rumah tangga.

Berikut sosok dr Wahidin dan sisi lainnya yang dirangkum dari buku Wahidin Soedirohoesodo: Sang Dokter Bangsa (2018) terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan Pendiri Budi Utomo

Meski sering dikaitkan dengan Budi Utomo, dr Wahidin tidak tercatat sebagai pendiri langsung organisasi tersebut. Namun, dr Wahidin adalah "otak" dan inspirator utama di balik lahirnya wadah pergerakan modern pertama di Indonesia tersebut.

Wahidin lahir pada 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dia berasal dari keluarga priyayi rendah. Berkat koneksi kakak iparnya yang merupakan warga Belanda, Wahidin berhasil masuk sekolah elit Eropa (Europeesche Lagere School / ELS) yang sangat tertutup bagi kaum pribumi biasa.

Otak encernya kemudian mengantarkannya ke Sekolah Dokter Djawa (STOVIA) di Batavia. Hebatnya lagi, ia sukses merampungkan kurikulum kedokteran yang normalnya 3 tahun hanya dalam waktu 22 bulan saja.

Dokter yang Menolak Dibayar

Dokter Wahidin Soedirohoesodo sejak dulu dikenal sebagai sosok yang sederhana, baik dari penampilan maupun sikapnya. Sehari-hari, ia terbiasa membalut dirinya dengan baju surjan tenun, bawahan batik, serta destar sebagai penutup kepalanya.

Dalam bekerja pun Wahidin mendedikasikannya untuk masyarakat. Setelah kembali ke Yogyakarta dan bekerja sebagai dokter pemerintah, Wahidin melayani masyarakat luas. Kepada pasien yang tak mampu, dia membebaskan biaya pengobatan, bahkan memberikan ongkos pulang. Dia hanya minta bayaran wajar kepada orang kaya.

Seniman Karawitan dan Dalang yang Mahir

Di balik pekerjaannya sebagai dokter, Wahidin ternyata memiliki jiwa seni yang sangat mendalam, khususnya dalam kesenian karawitan dan mendalang. Di kediamannya, terdapat seperangkat alat gamelan yang sering dimainkan bersama tamu dan kerabat yang datang berkunjung.

Tidak sekadar bermain, beliau sangat mahir dan hafal banyak gending di luar kepala, serta mampu memainkannya dengan alat gamelan apa saja. Keahliannya dalam mendalang pun tidak main-main karena nyaris menyamai dalang yang sebenarnya.

Ki Hajar Dewantara, dalam tulisannya, bahkan menyebut Dokter Wahidin sebagai dalang amatir terbaik di kota kebudayaan Yogyakarta. Ketajaman telinganya terhadap musik Jawa ini juga pernah membuat Bupati Batavia kagum.

Penasihat Rumah Tangga

Karena pembawaannya yang lembut dan bijak, pintu rumah Dokter Wahidin sering kali menjadi tempat mengadu bagi para tetangganya yang sedang dirundung masalah. Beliau tak jarang membantu menyelesaikan masalah rumah tangga orang lain.

Suatu hari, ada seorang pembantu yang ketakutan karena majikannya sedang bertengkar hebat. Dokter Wahidin tidak datang untuk langsung melerai, melainkan sengaja berjalan santai melintas di dekat rumah mereka seolah-olah sedang mencari kawan untuk bermain kartu pei.

Pasangan tersebut lantas berhenti bertengkar karena merasa malu. Lalu selama bermain kartu bersama mereka, Wahidin dengan lihai memancing mereka untuk menceritakan masalahnya hingga terselesaikan.

Di lain waktu, seorang pemuda bernama Jayengkarsa datang dalam keadaan bimbang karena dipaksa menikah oleh orang tuanya. Dokter Wahidin memberinya nasihat halus dengan menceritakan lika-liku kehidupan rumah tangga beserta pentingnya bekal ilmu dan harta.

Dia juga mengingatkan sang pemuda akan kewajibannya terhadap bangsa yang masih tertindas. Nasihat itu membuka pikiran Jayengkarsa untuk menolak menikah saat itu dan mengutamakan berjuang bagi masyarakat terlebih dahulu.

Warisan dr Wahidin

Dr. Wahidin Soedirohoesodo wafat pada 26 Mei 1917 dengan tenang karena telah melihat langsung tunas-tunas intelektual bangsanya mulai tumbuh tak terbendung. Sebagai bentuk penghormatan abadi, pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.

Saat ini, nama besarnya digunakan untuk nama jalan, nama rumah sakit, hingga kapal rumah sakit canggih milik TNI AL (KRI dr Wahidin Sudirohusodo - 991).

Halaman 2 dari 2
(bai/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads