Hari Lupus Dunia diperingati setiap tanggal 10 Mei. Sebagian orang mungkin masih belum mengenal apa itu lupus, meski namanya tak terdengar asing. Untuk itu, momen ini krusial untuk mengedukasi masyarakat mengenai penyakit lupus.
Dilansir dari situs Cleveland Clinic, lupus adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi, justru berbalik menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Kondisi ini memicu peradangan yang dapat berdampak pada berbagai organ, seperti kulit, sendi, darah, ginjal, otak, jantung, dan paru-paru.
Simak artikel ini untuk mengenal lupus, mulai dari tipe, gejala, penyebab, faktor risiko, komplikasi, tes dan diagnosis, pengobatan, hingga hal-hal yang dapat dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tipe-tipe Lupus
Istilah medis yang paling umum digunakan untuk lupus adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Ini adalah jenis lupus yang paling sering ditemui dan memengaruhi seluruh tubuh penderitanya. Beberapa jenis lupus lainnya meliputi:
- Lupus Kutan (Cutaneous Lupus Erythematosus): Jenis lupus ini hanya menyerang kulit.
- Lupus Akibat Obat (Drug-induced Lupus): Terjadi sebagai efek samping dari konsumsi obat tertentu. Sifatnya biasanya sementara dan akan menghilang setelah obat tersebut dihentikan.
- Lupus Neonatal: Kondisi langka di mana bayi terlahir dengan lupus. Bayi dari ibu yang memiliki lupus memiliki risiko lebih tinggi, namun bukan berarti mereka pasti akan mewarisinya.
Gejala Lupus
Berdasarkan situs Mayo Clinic, gejala lupus tidak sama pada setiap orang. Kemunculannya bisa tiba-tiba atau perlahan, bersifat ringan atau parah, serta bisa berlangsung singkat maupun berkepanjangan.
Penderita lupus sering mengalami fase kambuh (flare), di mana gejala memburuk untuk sementara waktu sebelum akhirnya mereda atau hilang sama sekali. Gejala yang muncul sangat bergantung pada bagian tubuh mana yang terdampak, namun yang paling umum meliputi:
- Kelelahan yang ekstrem.
- Demam.
- Nyeri, kaku, dan bengkak pada sendi.
- Ruam berbentuk kupu-kupu (butterfly rash) di wajah yang menutupi pipi dan hidung, atau ruam di area tubuh lain yang memburuk saat terkena sinar matahari.
- Jari tangan dan kaki memucat atau kebiruan saat kedinginan atau stres. (Ciri ini mungkin lebih sulit terlihat pada kulit gelap).
- Sesak napas.
- Nyeri dada.
- Sakit kepala, kebingungan, dan penurunan daya ingat.
Penyebab Lupus
Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab utama lupus. Penyakit ini kemungkinan besar muncul karena kombinasi antara faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.
Pada seseorang yang sudah memiliki kecenderungan genetik, lupus dapat dipicu oleh beberapa hal berikut:
- Sinar Matahari: Paparan sinar matahari dapat memunculkan ruam kulit atau memicu gejala lupus lainnya.
- Infeksi: Terkena infeksi tertentu dapat menjadi awal mula munculnya lupus atau memicu kekambuhan.
- Obat-obatan: Beberapa jenis obat penurun tekanan darah, obat anti-kejang, dan antibiotik dapat memicu lupus. Umumnya, pasien akan membaik setelah berhenti mengonsumsi obat tersebut. Meski jarang, ada kasus di mana gejala menetap dan memerlukan pengobatan khusus lupus.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena lupus meliputi:
- Jenis Kelamin: Lupus jauh lebih sering terjadi pada wanita.
- Usia: Meski bisa menyerang siapa saja, lupus paling sering didiagnosis pada rentang usia produktif, yaitu 15 hingga 45 tahun.
- Ras: Secara statistik, lupus lebih umum ditemukan pada ras kulit hitam, Hispanik, atau keturunan Asia.
Komplikasi Penyakit Lupus
Peradangan yang ditimbulkan oleh lupus dapat merusak beberapa organ vital, seperti:
- Ginjal: Lupus bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang serius. Gagal ginjal merupakan salah satu penyebab utama kematian pada penderita lupus.
- Otak dan Sistem Saraf Pusat: Jika menyerang otak, penderita bisa mengalami pusing, sakit kepala, perubahan perilaku, masalah penglihatan, hingga stroke atau kejang. Banyak pasien juga mengalami kesulitan mengingat dan berpikir.
- Darah dan Pembuluh Darah: Lupus dapat memicu masalah darah, seperti anemia (kurangnya sel darah merah sehat), serta meningkatkan risiko perdarahan atau pembekuan darah abnormal.
- Paru-paru: Risiko peradangan pada selaput rongga dada menjadi lebih tinggi, sehingga pernapasan terasa menyakitkan. Perdarahan pada paru-paru dan pneumonia juga rentan terjadi.
- Jantung: Lupus dapat memicu peradangan pada otot, arteri, atau selaput jantung, yang berujung pada peningkatan risiko serangan jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya.
Komplikasi Lainnya
Selain risiko pada organ vital di atas, memiliki kondisi lupus juga meningkatkan risiko:
- Infeksi: Penyakit lupus dan prosedur pengobatannya dapat menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga penderita lebih mudah terserang infeksi.
- Kanker: Terdapat sedikit peningkatan risiko kanker pada penderita lupus.
- Kematian Jaringan Tulang (Avascular Necrosis): Kondisi di mana aliran darah ke tulang terhambat, menyebabkan keretakan kecil yang akhirnya bisa membuat tulang hancur.
- Komplikasi Kehamilan: Ibu hamil dengan lupus memiliki risiko keguguran, hipertensi, dan kelahiran prematur yang lebih tinggi. Dokter biasanya menyarankan untuk menunda kehamilan sampai kondisi lupus benar-benar terkontrol demi meminimalkan risiko ini.
Tes Dan Diagnosis
Mendiagnosis lupus bukanlah hal yang mudah karena gejalanya sering kali menyerupai penyakit lain. Dikutip dari NHS, biasanya dokter akan memulai dengan melakukan tes darah.
Diagnosis lupus dapat ditegakkan jika hasil tes menunjukkan tingginya kadar antibodi tertentu, yang disertai dengan keluhan gejala khas lupus. Jika dokter menduga ada kerusakan organ, Anda akan dirujuk untuk menjalani pemeriksaan Rontgen atau pemindaian (scan) pada jantung, ginjal, atau organ lainnya.
Bila diagnosis lupus sudah dikonfirmasi, Anda akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin, seperti tes darah untuk memantau anemia dan tes urine untuk mendeteksi fungsi ginjal.
Tingkat Keparahan Lupus:
- Ringan: Ditandai dengan kelelahan, serta masalah ringan pada kulit dan sendi.
- Sedang: Peradangan mulai meluas ke kulit bagian lain dan memengaruhi organ tubuh seperti paru-paru, jantung, dan ginjal.
- Parah: Peradangan sangat parah sehingga memicu kerusakan besar pada jantung, paru-paru, otak, atau ginjal, dan berpotensi mengancam jiwa.
Pengobatan Lupus
Hingga saat ini lupus belum dapat disembuhkan total, tetapi pengobatan difokuskan untuk mengendalikan gejala. Jenis pengobatan yang mungkin diberikan meliputi:
- Obat Anti-inflamasi: Seperti ibuprofen untuk meredakan nyeri sendi dan peradangan.
- Hydroxychloroquine: Sangat efektif untuk mengatasi rasa lelah ekstrem serta masalah pada kulit dan sendi.
- Steroid (Pil, Suntikan, atau Krim): Digunakan secara khusus untuk mengatasi ruam dan peradangan hebat pada ginjal.
- Imunosupresan atau Obat Biologis: Pada kasus lupus yang parah, obat ini diberikan untuk menenangkan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif.
Hal Yang Dapat Dilakukan
Meski obat-obatan memegang peran utama, Anda dapat mengelola gejala dan menekan risiko perburukan penyakit melalui gaya hidup sehari-hari.
Anjuran yang Bisa Dilakukan:
- Selalu gunakan tabir surya (sunscreen) minimal SPF 50 dan pakai topi saat keluar rumah. Kulit penderita lupus sangat sensitif terhadap UV.
- Kenali batasan diri. Atur ritme aktivitas agar Anda tidak kelelahan berlebih.
- Usahakan tetap aktif bergerak atau berolahraga ringan, bahkan di saat tubuh terasa kurang fit.
- Lakukan teknik relaksasi untuk mengelola stres, karena stres adalah salah satu pemicu kambuhnya gejala.
- Beri tahu atasan Anda di tempat kerja mengenai kondisi ini, agar ritme atau pola kerja bisa disesuaikan.
- Jangan ragu meminta dukungan dari keluarga, sahabat, maupun tenaga medis.
- Konsumsi makanan bergizi seimbang, pastikan asupan vitamin D dan kalsium Anda terpenuhi.
Hal yang Harus Dihindari:
- Jangan merokok. Merokok dapat memperburuk komplikasi lupus, sehingga menghentikan kebiasaan ini adalah keharusan.
- Hindari paparan langsung. Jangan berlama-lama duduk di bawah terik sinar matahari atau menghabiskan waktu terlalu lama di dalam ruangan dengan paparan lampu fluoresen yang silau.
Hari Lupus Dunia menjadi momen yang tepat bagi kita untuk menyatukan langkah dan meningkatkan kesadaran terhadap lupus. Kita juga dapat menunjukkan kepedulian terhadap kondisi autoimun yang kerap dijuluki 'penyakit seribu wajah' ini.
